ketaatan, cara mengajarkan anak agar taat
8 Tips Mengajarkan Anak Anda KetaatanAnak-anak yang masih polos perlu belajar banyak pelajaran adab saat makan, bersikap, dan berbicara. Seiring dengan pertumbuhan mereka, ada pelajaran yang perlu ditanamkan setiap orang tua kepada putra/putrinya, ketaatan. Sebagian besar orang tua berpikir, bahwa menanamkan aturan dan norma pada anak-anak adalah tugas yang sangat menantang. Tetapi sebenarnya itu adalah tugas mudah yang bisa dilakukan dengan sabar dan konsisten. Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda sebagai orang tua untuk menanamkan ketaatan pada anak Anda.

1. Katakan pada anak Anda tentang pentingnya aturan dan hukum
Anak-anak benar-benar menyadari tentang dunia luar. Sesekali duduk dengan mereka dan berbicara tentang berbagai aturan dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Misalnya, Anda dapat memberitahu anak Anda mengapa kita harus selalu menjaga kebersihan lingkungan. Anda dapat mengatakan kepadanya bahwa ini adalah aturan penting yang harus diterapkan semua orang. Anda juga dapat memulai dengan memahami persepsi anak-anak Anda tentang aturan tersebut. Kemudian, Anda dapat menjelaskan mengapa perlu adanya aturan. Misalnya, Anda dapat memberitahu mereka mengapa penting untuk menghentikan kendaraan ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Contoh-contoh ini tidak hanya akan membantu anak-anak Anda melindungi diri mereka sendiri tetapi juga akan memungkinkan mereka belajar tentang pentingnya hukum dan ketertiban.

2. Menerapkan beberapa norma di rumah Anda
Anda bisa mulai dengan membuat jadwal untuk anak-anak Anda. Anda dapat menyertakan setiap aktivitas anak Anda dalam jadwal ini. Anda harus menyertakan kapan waktunya belajar, mengaji, tidur siang, nonton TV, mengerjakan pekerjaan rumah, dan waktu bermain. Disiplin waktu dapat bermanfaat untuk menentukan kesuksesannya di kemudian hari.



3. Komunikasikan semua aturan untuk anak-anak Anda dengan jelas
Setelah menetapkan aturan, sangat penting untuk menjelaskan kepada mereka tentang semua aturan. Jika anak-anak tidak menerima beberapa aturan, maka orangtua dapat memikirkan kembali dan membuat perubahan untuk menyesuaikan. Bagaimanapun juga, Anda harus menerima dan menghargai saran anak Anda. Aturan yang terlalu ketat akan membuat mereka memberontak.

4. Tentukan konsekuensinya jika tidak mematuhi aturan
Seiring dengan berjalannya aturan yang sudah mereka sepakati, Anda juga harus menyampaikan konsekuensinya jika mereka tidak mematuhi. Anda dapat memutuskan beberapa hukuman ringan dan menggunakannya ketika mereka melanggar aturan. Misalnya, Anda dapat memotong uang saku selama seminggu, membatasi main video game, atau Anda dapat membatasi mereka dari menonton TV untuk jangka waktu pendek. Jangan terlalu keras atau terlalu lembut pada anak-anak ketika mereka melanggar aturan.

5. Jadilah konsisten dengan aturan dan konsekuensinya
Konsistensi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan. Sebagai orang tua, Anda harus menjaga konsistensi agar mereka berpikir serius tentang aturan. Jika kurangnya konsistensi, maka mereka dapat meremehkan semua aturan dan pada akhirnya, mereka tidak akan menjadi anak-anak yang taat. Jangan emosional pada saat memberikan hukuman. Tegas dan konsisten akan membuat mereka kelak menjadi individu yang lebih baik.



6. Beri contoh dengan mengikuti aturan yang sama
Orang tua adalah model peran pertama bagi anak-anak mereka. Jadi, Anda harus memberi contoh yang baik menjadi orang yang disiplin. Bagaimana bisa mereka mematuhi Anda, jika Anda sendiri tidak taat pada peraturan. Anda harus mengikuti aturan yang sama dengan anak-anak Anda. Ini akan memotivasi mereka untuk melakukan yang lebih baik.

7. Hargai perilaku taatnya
Apresiasi sama pentingnya dengan hukuman dan disiplin. Jika Anda menghargai anak-anak Anda dalam perkembangannya berperilaku taat, anak-anak akan terus merasa termotivasi. Anda dapat menghargai dan menghadiahi anak-anak Anda dengan es krim, pizza, atau pelukan hangat.

8. Jangan menghukum anak karena kesalahan mereka
Anda harus memahami perbedaan antara kesalahan dan ketidakpatuhan. Hukuman dimaksudkan untuk memberi konsekuensi atas ketidaktaatan, dan bukan untuk kesalahan. Misalnya, Anda dapat menghukum anak Anda ketika ia malah asyik bermain pada saat belajar, tetapi Anda tidak boleh menghukum jika nilainya turun di sekolah. Dalam hal ini, Anda dapat menjelaskan kepada anak secara baik kapan waktunya belajar dan kapan waktunya bermain.




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."