filsafat jawa, ajaran jawa kuno

Ajaran Filsafat Kuno Masyarakat Jawa
Ajaran orang jawa kuno sering menggunakan filosofi (unen-unen/peribahasa) yang berhubungan dengan budi pekerti luhur dan etika kehidupan. Filosofi ini harus selalu digunakan sebagai pedoman, dimaksudkan agar dalam menjalani hidup ini kita senantiasa tertuntun ke jalan yang lurus.



Jawa dan kejawen sebagai bagian tak terpisahkan satu sama lain. Kejawen bisa menjadi penutup atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, pada masa Hindu dan Budha. Dalam perkembangannya, penyebaran Islam di Jawa juga dibungkus dengan ajaran masa lalu, kadang-kadang bahkan melibatkan aspek Jawa sebagai ‘bumbu’ untuk penyebaran agama Islam. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa. Unsur-unsur Islam ditanamkan dalam budaya seperti pertunjukan wayang Jawa, lantunan lagu Jawa, ilmu sastra dan filsafat dalam bentuk syair, cerita epos, upacara tradisi selamatan, terutama di Kerajaan Mataram (Yogya/Solo).

Ajaran Filsafat Jawa dalam Berbagai Aspek

1. Konsep tentang Ketuhanan (Tauhid)
“Pangeran iku ora ono sing podho. Mulo ojo nggambar-ngambarake wujuding Pangeran”. Artinya : Tuhan itu tak ada yang bisa menyamainya. Oleh sebab itu jangan menggambar-gambarkan wujud Tuhan.

“Pangeran iku dudu dewo utowo manungso, nanging sekabehing kang ono iku, uga dewa lan manungso asale soko Pangeran”. Artinya : Tuhan itu bukan dewa atau manusia, namun segala yang ada itu, termasuk dewa dan manusia itu berasal dari Tuhan.

“Pangeran iku biso ngawohi kahanan opo wae tan keno kinoyo ngopo”. Artinya: Tuhan itu bisa mengubah segalanya tanpa mungkin dapat diperkirakan manusia.

“Pengeran iku kuwoso tanpo piranti, mulo soko kuwi ojo darbe pengiro yen manungso iku biso dadi wakiling Pangeran”. Artinya: Tuhan itu berkuasa tanpa menggunakan alat pelengkap apa pun, oleh sebab itu jangan beranggapan manusia itu dapat mewakili Tuhan.

“Pangeran biso ngerusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan biso gawe kahanan anyar kang diperlokake”. Artinya: Tuhan itu bisa merusak sesuatu yang tidak diperlukan, dan bisa menciptakan sesuatu yang baru yang diperlukan.

“Ora ono kesakten sing mandhi papesthen, awit papesthen iku wis ora ono sing biso murungake”. Artinya: Tidak ada kesaktian yang bisa menyamai kepastian Tuhan, karena tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian Tuhan.

“Owah ono gingasring kahanan iku soko kersaning Pangeran Kang Murbahing Jagad”. Artinya: Perubahan itu hanya atas kehendak Tuhan Yang Menguasai Jagad (Alam Semesta).






About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."