guru sejati, cara bertemu guru sejati, guru sejati sunan kalijaga, amalan guru sejati, guru sejati dalam islam, amalan mencari guru sejati, guru sejati syekh siti jenar, guru sejati sejatine guru, guru sejati kundalini
Apa Perbedaan Jiwa dengan Guru Sejati? – Pernah mendengar ‘Guru Sejati’? Kalau Jiwa semuanya saya yakin sudah banyak yang mengenal. Banyak orang menyebut Guru Sejati dengan banyak nama seperti Higher Self, Kesadaran Rohani, Oversoul, Kesadaran Kristus, dan banyak lagi sebutan lainnya. Nah, kali ini saya akan membagikan tulisan perbedaan antara Jiwa dengan Guru Sejati. Baca terus…

“Setiap tubuh adalah titian Nabi Adam, bersemayamnya roh yang merupakan percikan-percikan Nur Muhammad.”

Ada aspek dalam diri kita yang tidak terlihat, namun sebenarnya sangat nyata. Dimensi halus ini berada dalam diri kita, bagian integral dari setiap orang. Dikatakan saat kita lahir ke dunia ini, Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuh kita. Berarti sudah bisa dipastikan bahwa Dia ada di dalam diri kita. Kita semuanya adalah percikan cahaya Tuhan. Tuhan adalah Samudera Maha Luas, dan kita semua adalah air yang berada di dalamnya. Lalu mengapa kita masih jauh dari cerminan sifat Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Ketika Anda bisa merenungkan kembali perjalanan hidup Anda, Anda pasti segera menyadari bahwa tubuh fisik ini tempat bersemayamnya Jiwa, dari perjalanan Jiwa pula Anda akan belajar untuk menemukan Guru Sejati. Ia merupakan kunci untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi, kebenaran yang melampaui batas dualitas (Matriks).

Apa perbedaan Jiwa dan Guru Sejati?



Jiwa
Jiwa adalah tubuh eterik, bagian dari roh yang kekal dan bermanifestasi dalam berbagai bentuk. Jiwa adalah nafas dari roh yang menjadikan tubuh fisik kita hidup, energi kesadaran yang membawahi pikiran, emosi, memori, keinginan, kehendak, dan aspek lain yang menyertai perjalanan kehidupan Anda di dimensi materi.

“Kita bukanlah tubuh fisik yang memiliki jiwa,
Kita adalah jiwa yang memiliki tubuh fisik.”

Saat lahir di dimensi materi ini, aspek seperti kepribadian, karakter, bakat, kemampuan, kelemahan dan kekuatan sudah terbentuk sebagai bagian dari jiwa Anda. Perjalanan spiritual melalui pengalaman fisik membawa banyak pengalaman dan kebijaksanaan untuk jiwa sehingga membantu Anda mencapai kesadaran rohani.

Guru Sejati
Sedangkan Guru Sejati adalah ‘The Greatest Version’, atau aspek tertinggi dalam diri kita yang diperoleh dari akumulasi pengalaman Jiwa kita. Ia adalah pusat kebijaksanaan dan sumber pengetahuan tak terbatas. Guru Sejati atau kesadaran rohani mengambil sumber informasi dari ‘Akashic Records’ atau Catatan Ketuhanan. Jika Anda berguru kepada seseorang yang belum sampai di sini, maka bimbingan darinya hanya bersumber dari rumusan-rumusan pikiran berdasarkan pengalaman yang bersifat analitis, masih bercampur ego. Ego inilah yang sering dikenal sebagai iblis di dalam diri, yaitu kualitas diri yang masih harus kita perbaiki dalam perjalanan jiwa kita. Ego bermanifestasi seperti sifat kemarahan, keserakahan, ketidakpedulian, merasa paling benar atau baik, dll.

Jika kita belum mencapai Higher Self atau Kesadaran Rohani, maka kebenaran yang kita yakini hanyalah kebenaran subjektif saja, karena kebenaran itu belum selaras dengan Kebenaran Sejati yang ada dalam ranah ilmu Tuhan yang hanya bisa diakses di dimensi roh kita. Melalui Kesadaran Rohani inilah kita akan dibimbing langsung dengan ilmu-ilmu yang tidak lagi bersumber dari fisik (Dimensi 3), tetapi langsung dari kejernihan nurani kita sendiri lewat perantara para malaikat dan ascended masters. Seseorang yang sudah mampu berkomunikasi dengan Guru Sejati maqamnya sudah stabil dalam frekuensi Nafsu Mutmainnah. Nafsu Mutmainnah dapat diartikan sebagai nafsu yang selalu disinari cahaya, cahaya yang selalu menjaga hati dari sikap tercela dan senantiasa menampilkan sifat-sifat terpuji (Kebajikan).



Selagi kita masih belum mendapat bimbingan dari dimensi rohani kita sendiri, maka ilmu yang kita dapat dari membaca atau melalui perantara guru, masih bersifat pribadi. Kita hanya mampu menilai semuanya dengan persepsi dualitas, bukan dengan ilmu yang hakiki sebagaimana mestinya. Sedangkan ilmu yang hakiki hanya bisa diperoleh jika kita telah mampu membersihkan nurani dari kekotoran batin, tak lagi menjadi budak ego. Salam cahaya.

Disclaimer : Segala sesuatu yang saya tuliskan tidak bermaksud lain selain membagikan apa yang saya alami dan yakini dalam perjalanan spiritual saya sendiri. Dengan niat yang tulus untuk berbagi tentang kesadaran, diluar batas sebagai organisasi, paham, atau bahkan agama. Saya netral menuliskan semuanya dalam cinta kasih, dan saya yakin semua orang bisa merasakannya. Sekali lagi, satu-satunya sarana untuk mengenali kebenaran hanyalah dengan menggunakan hati nurani. Setiap kali membaca atau menerima informasi tertentu, tanyakan pada hati nurani, apakah hal yang Anda terima sesuai dengan keyakinan diri sendiri? Jika jawabannya tidak, Anda bisa mengembalikannya kepada Allah SWT. Tanpa penilaian akal/menghakimi.




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."