Bisakah Stroke Menyerang Anak?Stroke pada anak tidak bisa diremehkan. Diperkirakan, di AS sekitar 6 diantara 100.000 anak menderita stroke setiap tahun. Stroke adalah salah satu diantara 10 penyebab kematian anak-anak di AS. Sayangnya, di Indonesia prevalensi atau angka kejadiannya belum diketahui.

Stroke Pada Anak, Anak Terserang Stroke

Stroke tidak hanya menyerang orang dewasa. Stroke juga bisa terjadi kepada anak-anak. Hanya saja, kebanyakan stroke terhadap orang dewasa disebabkan adanya penyakit lain seperti diabetes dan hipertensi. Penyebab stroke pada anak biasanya adalah kelainan kongenital (bawaan) dan faktor genetis.

Dokter Cindy Sadikin SpRad (K) dari Rumah Sakit Siloam mengungkapkan, tiap bulan setidaknya dirinya menangani seorang pasien anak yang menderita stroke. Orang tua yang membawa ke rumah sakit terkaget-kaget tiap kali anaknya didiagnosis menderita stroke. Anak yang menderita strokeĀ  memiliki kelainan pembuluh darah seperti berbelok-belok. Kelainan pembuluh darah itu bisa terjadi di kepala, tubuh, maupun kaki. Saat anak terserang stroke, berbagai perubahan klinis akan terlihat. Misalnya, kejang-kejang, kelumpuhan di salah satu sisi tubuh, nyeri kepala hebat, atau bahkan sulit berbicara. “Segera bawa anak ke rumah sakit jika mengalami gejala-gejala itu ” jelas spesialis dan konsultan radiologi tersebut.

Stroke Pada Anak

Stroke kepada anak bisa terjadi sewaktu-waktu. Dari beberapa pasien yang berobat ke rumah sakit, ada yang berusia 6-7 tahun. Ada juga yang berusia belasan tahun. Biasanya, penyakit mereka baru terdeteksi saat mengalami gejala stroke. Ketika dibawa ke rumah sakit, dokter akan memastikan penyakitnya dengan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance imaging) atau CT Scan. Namun, orang tua biasanya memilih pemeriksaan MRI karena tanpa radiasi. Setelah pasien dinyatakan positif menderita stroke, salah satu tindakan yang bisa dilakukan adalah endovaskuler, melakukan terapi, atau operasi lewat pembuluh darah.



Prosesnya, dokter akan memasukkan alat ke pembuluh darah. Alat tersebut berupa kateter sebesar pulpen yang dimasukkan lewat perut menuju kepala. Alat yang dilengkapi kamera 3D tersebut bakal mencari kelainan pembuluh darah ke otak. Jadi, dokter dapat memonitor letak kelainan itu. Pembuluh darah tersebut kemudian ditutup. Tindakan itu membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam, bergantung pada tingkat kesulitan kasusnya. Saat menjalani tindakan tersebut, pasien juga dibius total. Biasanya pasien cukup menjalani 1-2 kali tindakan. “Setelah itu, kondisinya akan stabil. Tidak ada perawatan khusus pasca operasi. Berbeda dengan stroke yang menyerang orang dewasa.” ungkap alumnus FK Unair tersebut. Namun, dibutuhkan kerja sama antara dokter anak dan saraf untuk memantau penyakit itu.



Karena kelainan kongenital, penyakit itu tidak dapat dicegah. Hanya, penyakit itu bisa dideteksi sejak dini. Bahkan sejak bayi baru lahir. Deteksi bisa melalui pemeriksaan MRI. Cindy menyarankan, orang tua sebaiknya tanggap saat mendapati anaknya mengalami tanda gejala stroke. “Jangan berpikir panjang untuk segera membawa anak Anda ke dokter sebelum terlambat ditangani.” tutupnya.




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."