matriks, ilusi matriks, dimensi ketiga, dimensi keempat, dimensi kelima
Menyibak Ilusi Matriks : Dunia Dimensi 3, 4, dan 5 (Bagian I)Niels Bohr, seorang fisikawan asal Denmark yang menciptakan kontribusi signifikan untuk memahami struktur atom dan teori kuantum pernah berkata: ‘jika mekanika kuantum belum membuat Anda terkejut, berarti Anda belum benar-benar memahami hal itu. Fisika kuantum telah membuat para ilmuwan di seluruh dunia terheran-heran, terutama dengan penemuan bahwa realitas material fisik kita sesungguhnya bukan fisik sama sekali. “Segala sesuatu yang kita sebut nyata ternyata tecipta dari hal-hal yang tidak bisa dianggap sebagai nyata”. Tampaknya filsuf kuno masa lalu memang benar, indera kita benar-benar telah menipu kita. Baca terus…

Sekali lagi, realitas material fisik kita sesungguhnya bukan materi sama sekali. Makna, hubungan dan implikasi dari temuan ini dalam dunia kuantum telah menyebabkan sejumlah besar ide dan teori, beberapa di antaranya diberi label “pseudo-science”. Artikel ini akan menyajikan bukti ilmiah yang jelas menunjukkan hubungan antara kesadaran dan apa yang kita sebut sebagai realitas dan bagaimana hal ini tidak lagi dapat ditolak. Kita juga akan merenungkan implikasi ini untuk mengetahui, dan bagaimana realitas ini memainkan peran penting dalam transformasi potensi planet kita, pada saat kita membutuhkannya.

Pemahaman ilmiah kita terus-menerus berubah sepanjang sejarah manusia. “Pengetahuan” lama secara konstan digantikan oleh yang baru. Bahkan pemahaman kita saat ini tentang hukum fisika, bisa saja memiliki beberapa celah, terutama dengan pengungkapan temuan-temuan baru. Beberapa ide-ide baru ini bisa merubah pemahaman kita tentang fisika, tapi bagaimana bisa kita memahami fisika jika apa yang kita sebut ‘materi’ sebenarnya tidak nyata? Bagaimana kita bisa mengerti ketika kita mengamati atom pada tingkat terkecil perilakunya ternyata berubah drastis? Dunia kuantum adalah salah satu kajian yang paling aneh, dan kita bisa mengatakan bahwa kita belum banyak mengerti akan hal itu, tapi kita mengakui pentingnya hal itu dan potensi yang dimilikinya untuk membantu mengubah dunia kita lebih baik. Kita mulai menyadari bahwa sifat non-fisik inilah yang mengatur alam semesta, dan kita bisa menggeser perhatian kita terhadap kesadaran dan peran yang dimainkannya berkaitan dengan realitas kita.

Gagasan bahwa atom adalah partikel terkecil di alam semesta ini runtuh dengan penemuan bahwa atom itu sendiri ternyata terdiri dari unsur yang lebih kecil, yaitu unsur subatom. Yang lebih mengejutkan lagi adalah ternyata bahwa partikel-partikel sub-atomik ini memancarkan berbagai ‘energi aneh’. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa temuan dalam fisika kuantum hanya berlaku dan signifikan pada tingkat sub-atomik, tetapi bukankan kita semua berada di tingkat sub-atomik? Apa buktinya? Ketika kita mengamati diri kita sendiri dan lingkungan fisik kita di tingkat terkecil, bukankan kita terdiri dari atom? Bukankah kita terdiri dari partikel subatom? Bukankah kita adalah apa yang kita amati?

Pada pergantian abad ke-19, fisikawan mulai mengeksplorasi hubungan antara energi dan struktur materi. Dengan demikian, keyakinan bahwa alam semesta fisik ini seperti dalam teori Newton telah runtuh dan realisasi bahwa materi ini hanyalah ilusi telah menggantikannya. Para ilmuwan mulai menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terbuat dari energi. Fisikawan kuantum menemukan bahwa atom terdiri dari pusaran energi yang terus berputar dan bergetar, masing-masing memancarkan energi yang unik. Oleh karena itu, jika kita benar-benar ingin mengamati diri kita sendiri dan mencari tahu siapakah kita, kita sesungguhnya adalah makhluk energi dan getaran, yang memancarkan energi yang unik -ini adalah realitas yang ditunjukkan oleh fisika kuantum dari waktu ke waktu. Kita lebih dari apa yang kita persepsikan tentang diri kita, dan saatnya kita mulai melihat diri kita sendiri sebagai energi itu. Jika Anda mengamati komposisi atom dengan mikroskop, Anda akan melihat bentuk seperti pusaran energi, dengan sejumlah vortisitas energi yang jauh lebih kecil yang disebut quark dan foton. Ini adalah apa yang membentuk struktur atom. Ketika Anda berfokus lebih dekat dan lebih dekat pada struktur atom, Anda tidak akan melihat apa-apa, Anda akan mengamati kekosongan. Atom tidak memiliki struktur fisik, kita tidak memiliki struktur fisik, hal-hal yang fisik sesungguhnya tidak memiliki struktur fisik! Atom terbuat dari energi yang tak terlihat, materi yang tidak berwujud.

Ini cukup membingungkan, bukan? Pengalaman kita mengatakan bahwa realitas kita terdiri dari hal-hal materi fisik, dan bahwa dunia kita adalah ada secara independen. Sekali lagi, apa yang diungkapkan oleh mekanika kuantum adalah bahwa tidak ada yang dianggap ‘fisik’ di alam semesta ini, atom terbuat miniatur energi yang terus bermunculan timbul dan tenggelam dari eksistensinya. Pemahaman bahwa alam semesta ternyata bukanlah hal-hal fisik, seperti disarankan oleh fisika Newton, tetapi berasal dari belitan holistik gelombang energi immaterial yang berasal dari karya antara lain Albert Einstein, Max Planck, dan Werner Heisenberg. Meskipun adanya temuan fisika kuantum, banyak ilmuwan saat ini yang masih melekat dan berorientasi pada pandangan dunia materi, tanpa alasan yang bisa diterima. Seperti disebutkan sebelumnya, para ilmuwan ini membatasi validitas teori kuantumnya hanya untuk dunia sub-atomik. Jika kita mengetahui bahwa materi bukanlah fisik, bagaimana kita bisa memajukan penemuan ilmiah kita dengan memperlakukannya sebagai bentuk fisik? Meskipun banyaknya keberhasilan empiris yang tak tertandingi dari teori kuantum, yang memungkinkan hal itu nyata sebagai deskripsi alam semesta sesungguhnya tapi penemuan itu masih kerap disambut dengan sinisme, ketidakpahaman, bahkan kemarahan.

Apa artinya bahwa realitas fisik ini sesungguhnya bukanlah fisik sama sekali?
Ini bisa berarti beberapa hal, dan konsep-konsep seperti ini tidak dapat dieksplorasi jika para ilmuwan tetap berada dalam batas-batas bahwa ini adalah satu-satunya dunia yang dirasakan ada, yaitu dunia yang kita lihat. Untungnya, banyak ilmuwan yang telah mengambil lompatan, dan telah mempertanyakan makna dan implikasi dari apa yang telah kita temukan dalam fisika kuantum. Salah satunya adalah, bahwa ‘pengamat menciptakan realitas’.





Kesimpulan mendasar dari fisika kuantum adalah mengakui bahwa pengamat menciptakan realitas. Sebagai pengamat, kita secara pribadi terlibat dengan penciptaan realitas kita sendiri. Fisikawan harus mengakui bahwa alam semesta ini adalah konstruksi ‘mental’. Fisikawan perintis Sir James Jeans menulis, ‘Aliran pengetahuan sedang menuju ke arah realitas non-mekanik, alam semesta mulai terlihat lebih seperti pikiran besar daripada sebuah mesin besar. Pikiran tidak lagi muncul menjadi penyusup yang disengaja hadir ke ranah materi, kita seharusnya melihat pikiran sebagai pencipta dan pengatur alam materi’. Kita tidak bisa lagi mengabaikan fakta bahwa keyakinan, persepsi dan sikap (kesadaran) kita menciptakan realitas.

Melampaui dunia fisik dan menerima kesimpulan bahwa alam semesta adalah mental-nonmateri dan spiritual. Salah satu contoh yang bagus yang menggambarkan peran dari kesadaran dalam dunia material fisik (yang kita tahu bahwa itu bukan fisik) adalah percobaan celah ganda. Penelitian ini telah digunakan beberapa kali untuk mengeksplorasi peran kesadaran dalam membentuk realitas fisik. Sebuah sistem optik celah ganda digunakan untuk menguji kemungkinan peran kesadaran dalam runtuhnya fungsi-gelombang kuantum. Studi ini menemukan bahwa faktor yang terkait dengan kesadaran, seperti meditasi, pengalaman, perhatian terfokus dan faktor psikologis lain seperti keterbukaan dan penerimaan, secara signifikan berkorelasi terhadap prediksi dalam pola interferensi celah ganda tersebut.

Tingkat kesadaran manakah yang mengendalikan hal ini?
Sekarang kita sudah menetapkan yang kita katakan sebagai fisik ternyata bukan fisik sama sekali, lalu apa langkah berikutnya? Sadari bahwa kita adalah atom, yang terdiri dari partikel-partikel subatomik, yang sebenarnya adalah sekelompok energi yang bergetar pada frekuensi tertentu. Kita, mengendalikan energi dalam bentuk kesadaran, yang menciptakan, membentuk dan berkorelasi dengan dunia materi fisik kita. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana tingkat kesadaran kita secara individu, dan yang lebih penting secara kolektif beroperasi menciptakan itu?

Penelitian menunjukkan bahwa emosi positif dan kedamaian dalam diri sendiri dapat menyebabkan pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan orang yang memancarkan emosi negatif terhadap orang di sekitar mereka. Pada tingkat sub-atomik, apakah frekuensi getaran bisa mengubah manifestasi dari realitas fisik? Jika demikian, dalam hal apa? Kita tahu bahwa ketika atom berubah, menyerap atau memancarkan frekuensi elektromagnetik, ia bertanggung jawab untuk mengubah kondisi itu. Apakah kondisi emosi, persepsi dan perasaan yang berbeda menghasilkan frekuensi elektromagnetik yang berbeda? Tepat! Hal ini ternyata telah terbukti.

Dunia non-fisik ini begitu aneh, bukan? Fakta bahwa materi muncul dari ruang kosong, dan banyak bukti yang menunjukkan bahwa sebuah kesadaran-lah yang menciptakan, itu cukup menarik. Yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah memahami bahwa umat manusia harus berfokus pada kedamaian, kerjasama dan pemahaman. Kita harus menyadari bahwa kita semua saling terhubung, bahwa kita dapat memecahkan masalah kita disini dengan mudah, mengingat fakta bahwa kesadaran kita memiliki sejumlah solusinya. Satu-satunya cara kita akan dapat menerapkan dan memanfaatkan solusi ini adalah melalui pergeseran dalam kesadaran kita. Bersambung ke Bagian II




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."