intelek, spiritualAda perbedaan mencolok antara pikiran dan hati. Pikiran cukup sering bertolak belakang dengan hati. Pikiran meremehkan kemampuan hati. Di satu sisi, hati menghargai dan mencintai seluruh tubuh. Hati mampu menginspirasi dan menggerakkan tubuh Anda untuk mencintai Tuhan Yang Maha Esa. Dari pengalaman pribadi sendiri, hati memberitahu tubuh bahwa hanya ada satu cara untuk menjadi bahagia dan damai, dan itu dengan cara mencintai Tuhan dan melibatkan Tuhan dalam segala hal.

Meskipun pikiran tidak peduli akan keberadaan Tuhan Yang Maha Besar. Tapi, pikiran ini ingin selalu mencoba menerka-nerka Tuhan, mengukurNya, menangkapNya, menelitiNya. Padahal itu jelas tidak mungkin, tapi akal pikiran mulai lelah mencari, lalu berkembang menuju kesadaran.

Tapi hati, tidak ingin menggambarkan Tuhan, menerka-nerka, atau mencoba mengukurNya. Bagi hati, Tuhan tidak terbatas, Tuhan Maha Kekal. Hati hanya ingin mencintai Tuhan dan menyerahkan keberadaanNya hanya kepada Tuhan saja. Hati menangis karena merindukan kasih Tuhan dan mencoba untuk hidup di jalan Tuhan.

Di dalam pikiran ada intelektualitas. Intelektualitas ini ingin dunia tunduk di kakinya. Ia ingin membuktikan bahwa keberadaannya di bumi adalah sesuatu yang berarti dan berharga.

Sedangkan, didalam hati ada seberkas cahaya yang mencoba untuk menerangi dunia dalam maupun luar. Di dalam hati ada cinta yang menyatukan dunia batin dengan dunia luar. Di dalam hati ada kenikmatan abadi yang menghubungkan keberadaan Anda di Bumi dan di Surga.

Menjadi seorang yang intelektual, ia mencoba untuk memberitahukan dunia secara luas akan kemampuannya. Menjadi manusia spiritual, Anda mencoba untuk mengubah dunia dari dalam diri Anda dan sekitar Anda. Orang intelektual mencoba untuk memaksa dunia di sekelilingnya untuk melihat apa yang dia bisa lakukan. Orang spiritual mencoba untuk menawarkan solusi kepada dunia di sekelilingnya kebajikan seperti yang Tuhan kehendaki.

Teman saya yang intelek dan teman saya yang spiritual memainkan perannya masing-masing. Teman yang intelek selalu menarik perhatian, sedangkan teman yang spiritual mampu menerangi. Teman yang intelek memiliki semua waktu untuk mengkritik kekurangan saya. Teman yang spiritual, selalu memaafkan dan menerima kesalahan orang lain sebagai miliknya sendiri. Teman spiritual saya menerima orang lain apa adanya. Perlahan, mantap, dan tanpa ragu teman spiritual saya membawa saya ke dunia transendensi diri, dimana saya akhirnya menjadi satu keutuhan tak terpisahkan dengan Yang Maha Agung.

Intelektual memiliki teman akrab : pikiran nalar. Pikiran nalar ini sayangnya cukup sering diserang oleh rasa ragu dan curiga. Pikiran yang penuh nafsu memiliki pintu ke dalam sifat yang selalu curiga. Dalam pikiran nalar, jarang ada kebahagiaan apapun. Dalam pikiran ragu dan curiga, kebahagiaan tidak pernah didapatkan sama sekali. Sebaliknya, disana kita melihat ketamakan, keserakahan, kehancuran, kebencian dsb.



Spiritualitas memiliki teman sejati : Iman. Iman ini berdiam di relung terdalam hati kita. Iman ini merupakan perwujudan Tuhan, mengungkapkan keberadaanNya dan memanifestasikanNya. Ketika menyadari akan keberadaan Tuhan, iman kita membawa kita ke tujuan pertama. Meyakini Firman Tuhan, iman kita membawa kita ke tujuan kedua. Ketika mampu memanifestasikan Tuhan, iman kita membawa kita ke tujuan ketiga dan paling sejati.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam melakukan kegiatan kita, apa yang kita butuhkan adalah kecerdasan. Ketika kita berada satu langkah maju dalam kehidupan luar kita, kita melihat bahwa kita perlu kecerdasan. Jika kita tidak memiliki kecerdasan, kita tidak bisa bertahan hidup. Jika kita tidak memiliki kecerdasan, kita juga tidak bisa melihat kebenaran secara jelas. Baik kecerdasan dan intelektualitas tahu apa sebenarnya ketidaktahuan itu, tetapi mereka tidak sadar mencoba untuk keluar dari jerat ketidaktahuan.

Dalam kehidupan batin kita, kita punya teman : Intuisi. Intuisi adalah kehidupan jiwa, intuisi adalah kereta ekspres yang mempercepat perjalanan kita pada Tuhan. Sekali lagi, api intuisi inilah yang membakar masa lalu. Membakar kehidupan sebelumnya yang belum mengenal Tuhan. Intuisi ini menerangi kehidupan kita saat ini. Membawa kita menuju masa depan jauh di dalam diri kita. Dengan kekuatan intuitif kita menciptakan kehidupan baru di dalam diri kita. Dengan kekuatan intuitif kita tumbuh menjadi pribadi makrifat.



Seseorang pencari Kebenaran tertinggi tidak perlu intelektualitas. Dia juga tidak perlu disebut pintar. Apa yang dia butuhkan adalah menangis dalam batin. Pada kekuatan teriakan batinnya, ia dapat dengan mudah memiliki pintu masuk ke dunia intuisi. Dan di dalam intuisi ada cinta kasih, keselamatan terbesar, pembebasan, dan kesempurnaan.

Kecerdasan yang kita dapatkan dari buku pengetahuan maupun internet, tidak dapat membantu kita menemukan realitas batin kita. Hal ini tidak dapat membantu kita mencapai puncak makrifat. Ini adalah seruan batin kita sendiri yang membantu kita menyelam ke dalam lubuk terdalam dari kesadaran kita, yang membantu kita naik ke kesadaran yang terus melampaui.

Seorang pencari Kebenaran sejati dapat memulai perjalanannya dengan pengetahuan dan kecerdasan, atau dia bisa memulai perjalanannya langsung dari intuisi. Tangisan batinnya dapat dengan mudah membawanya pada bidang intuisi tanpa masuk ke dunia intelektual.

Akhirnya pribadi intelektual akan menjelma menjadi spiritual. Ketika kita berubah, ditandai dengan diri kita merasa amat sangat berdosa. Dalam transformasi fisik, orang lain melihat kita sebagai pribadi yang terasing dan penyendiri. Dalam transformasi ini, sifat agresif penuh nafsu kebinatangan diubah menjadi jiwa tercerahkan yang penuh cinta kasih.




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."