Bagikan :

kanker serviks, kanker serviks gejala awal, pengobatan kanker serviks, penyebab dan gejala kanker serviks, pengobatan kanker serviks
Kanker Serviks : Gejala dan PengobatanKanker serviks atau biasa disebut kanker leher rahim. Artikel Bramardianto.com berikut menjelaskan beberapa informasi yang berguna tentang gejala kanker serviks dan pengobatannya. Baca lebih lanjut.

Secara struktur organ reproduksi wanita, letak mulut rahim adalah di ujung lubang vagina yang menghubungkan dengan rahim. Sebelum mengembangkan kanker, sel-sel serviks mengalami perubahan tertentu yang dikenal sebagai displasia. Selama tahap ini, sel-sel abnormal mulai muncul di jaringan serviks. Setelah itu, sel-sel kanker mulai tumbuh dan menyebar ke daerah leher rahim dan sekitarnya. Kanker serviks ditandai dengan pertumbuhan abnormal dari sel-sel ganas di leher rahim. Kanker ini dapat berhasil disembuhkan jika terdeteksi pada tahap awal. Kanker serviks menempati posisi pertama di Indonesia, biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks, dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.

Penyebab
Umumnya kanker disebabkan oleh mutasi genetik dalam sel-sel sehat. Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali. Jika sel serviks terus membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut dengan kanker serviks. Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks, seperti :

1. Virus HPV (human papilloma virus), virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56. Adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk adanya infeksi HPV.
2. Tangan yang tidak bersih yang dimasukkan ke dalam vagina, contoh salah satunya adalah masturbasi, ketika terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital, virus ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda.
3. Merokok. Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks.
4. Kurang mengkonsumsi vitamin C, asam folat dan vitamin E serta diet ketat akan memperburuk daya tahan tubuh karena dari beberapa pengamatan dengan daya tahan tubuh yang prima, maka mampu mencegah virus HPV ini.
5. Suami/pasangan seksualnya pernah melakukan hubungan seksual pertama pada usia di bawah 18 tahun dan berganti-ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks, dimana berdasarkan beberapa penelitian, hubungan seks bebas yang dilakukan dibawah usia 18 tahun dapat meningkatkan resiko menjadi 2-3 kali lipat.
7. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970).
8. Gangguan sistem kekebalan.
9. Pemakaian pil KB.
10. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun.
11. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear secara rutin) secara deteksi dini dari stadium sebelum kanker ini terjadi tidak diketahui segera.

Gejala
Yang harus diperhatikan juga adalah gejala dari kanker serviks ini, meski secara spesifik gejalanya tidak jelas dan tidak pasti karena kebanyakan kasus gejala pada saat perubahan pra-kanker (sebelum menjadi kanker) pada serviks. Gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear. Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut:



  • Nyeri panggul atau perdarahan dari vagina setelah melakukan hubungan seksual
  • Perdarahan vagina yang abnormal, seperti perdarahan diantara 2 menstruasi
  • Keputihan yang tidak biasa
  • Menstruasi yang berlangsung lebih lama dan lebih banyak jumlah darahnya. Kondisi ini dialami setiap bulan dengan periode yang menetap atau terus menerus.
  • Perdarahan setelah menopause

Kanker serviks yang sudah masuk ke stadium lanjut bisa berupa berkurangnya nafsu makan, penurunan berat badan secara drastis, keletihan terus menerus, nyeri panggul – punggung atau tungkai, dari vagina bisa keluar air kencing atau tinja bahkan bisa sampai terjadi patah tulang.

Diagnosa
Jika terdeteksi pada tahap awal, kanker serviks dapat berhasil diobati. Tes yang paling penting untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini adalah tes Papanicolaou (Pap smear). Berkat skrining tes Pap, tingkat kematian akibat kanker tertentu telah menurun secara signifikan selama 50 tahun terakhir. Sel-sel serviks pada stadium prakanker dapat dideteksi melalui tes Pap smear yang abnormal. tes skrining HPV adalah tes lain untuk menentukan infeksi HPV. Diagnosis dilakukan atas dasar kolposkopi, biopsi dan biopsi kerucut.

Jika Anda didiagnosis dengan kanker serviks, maka menentukan tingkat stadium kanker sangat penting untuk memutuskan rencana pengobatan. Menentukan tingkat stadium dilakukan atas dasar tes pencitraan seperti sinar-X, MRI scan dan CT scan dan pemeriksaan visual dari kandung kemih (cystoscopy) dan rektum (proctoskopi).

Pengobatan
Pengobatan terhadap kanker serviks tergantung pada beberapa faktor. Misalnya stadium kanker, jenis kanker, usia pasien, keinginan untuk memiliki anak, kondisi medis lain yang sedang dihadapi, dan pilihan pengobatan yang diinginkan. Memutuskan cara pengobatan terbaik bisa sangat membingungkan. Kanker serviks biasanya akan ditangani oleh tim yang terdiri dari dokter dari berbagai spesialisasi. Tim ini akan membantu memilih cara terbaik melanjutkan pengobatan, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan Anda.



Dalam kasus kanker non-invasif, pengobatan berfokus menghilangkan pertumbuhan sel-sel yang abnormal pada area serviks. Kanker noninvasif dapat dihilangkan dengan biopsi kerucut, operasi radical trachelectomy, terapi laser, LLETZ (large loop excision of transformation zone).

Dalam kasus kanker invasif, pengobatan yang lebih luas diperlukan. Pengobatan kanker serviks tergantung pada berbagai faktor seperti stadium kanker, masalah kesehatan lain dan keinginan pasien sendiri. Untuk kasus kanker serviks stadium lanjut, biasanya dirawat dengan metode kombinasi kemoterapi dan radioterapi. Beberapa penanganan bisa memiliki efek samping yang berat dan jangka panjang, termasuk di antaranya adalah menopause dini dan kemandulan.

Anda dapat meminimalkan risiko kanker serviks dengan mengambil beberapa tindakan pencegahan. Pertama, Anda harus mencegah infeksi HPV, dengan menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi. Anda harus mendapatkan vaksinasi terhadap HPV. Tes Pap rutin adalah cara paling efektif untuk mendeteksi kanker serviks pada stadium dini. Pastikan untuk menyelesaikannya secara teratur setelah usia 21.

Disclaimer : Artikel Bramardianto.com ini untuk tujuan informatif saja, dan tidak boleh digunakan untuk menggantikan nasihat yang ditawarkan oleh seorang ahli medis profesional.



Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."