ngidam, mengidam, penyebab mengidam, solusi mengidam, mengatasi mengidam, hamil mengidam, mengidam selama kehamilan
Mengidam Selama KehamilanSiapa bilang wanita hamil pasti mengidam? Banyak, kok, yang tidak mengalaminya. Mari kita simak, bagaimana sebenarnya persoalan mengidam dan mengatasinya.

Kewalahan memenuhi keinginan istri yang mengidam kerap dialami para calon ayah. Soalnya, si istri yang tengah hamil itu suka aneh-aneh ngidam nya. Bahkan ada ibu hamil yang ngidam ingin mencium artis pujaannya dengan harapan si bayi kelak berwajah mirip sang artis itu.

Tak jarang para suami dibikin jengkel oleh ulah istrinya yang ngidam. Bayangkan saja. Tengah malam buta si istri minta dibelikan es krim. Mau cari di mana? Apa harus mendatangi pabriknya? Ketika makanan yang diinginkan sudah didapat, eh, dimakannya cuma sedikit. Malah kadang, disentuh pun tidak. Sebal, kan? Tapi jika tak dipenuhi, alasannya nanti si jabang bayi keluar air liur terus. “Ini, kan, kemauan si jabang bayi. Bukan kemauan saya!”, begitu alasannya.

Benarkah mengidam lantaran keinginan si jabang bayi? Jangan-jangan itu cuma alasan saja. Atau jangan-jangan karena si calon ibunya saja yang manja atau ingin cari perhatian.

Ingin Diperhatikan Lebih

Secara medis, tak ada alasan kenapa wanita hamil mengidam.Kebanyakan karena masalah psikologis. Secara medis tak ada kelainan. Banyak juga, para ibu hamil yang tak mengidam. Sementara psikolog berpendapat, pada trimester pertama kehamilan, terjadi perubahan besar pada tubuh seorang wanita. Jadi, bisa saja saja terjadi wanita hamil kekurangan zat tertentu yang menyebabkan ia sangat memerlukan sesuatu.Jika ngidamnya tak mengada-ada, misalnya ingin makanan yang manis atau yang banyak garam, barangkali saja tubuhnya memang kekurangan zat-zat tertentu.

Tapi bila permintaannya aneh-aneh bahkan cenderung tak masuk akal, biasanya ini berlatar belakang manja atau mungkin juga karena ia kurang mendapatkan perhatian dari suami. Tapi tak semua perempuan yang hamil itu manja. Buktinya, banyak juga wanita yang tidak mengidam. Namun jangan menganggap perempuan berpura-pura saat benar-benar mengidam. Barangkali saja itu semua tak disadarinya. Jadi, minta perhatiannya memang dalam bentuk seperti itu.

Yang pasti, mengidam merupakan salah satu bentuk pernyataan wanita bahwa kehamilan merupakan tanggung jawab berdua antara suami-istri. Wanita hamil merasa bahwa si suami harus ikut memikul tanggung jawab atas kehamilannya. Nah, keluarnya dalam bentuk seperti itu, mengidam.

Harap dipahami, perubahan yang muncul selama kehamilan bukan cuma hormonal, tapi juga emosional. Alhasil, muncul perasaan dalam diri si istri, “Saya membawa sesuatu yang sangat penting. Sebagai suami, kamu juga harus bertanggung jawab. Bukankah ini sesuatu yang maha penting dalam hidup kita?” Dengan demikian, mungkin saja si calon ibu bukan dengan sengaja cari perhatian lewat mengidam itu. Atau, bisa saja si wanita merasa tak diperhatikan, lalu muncul perasaan bahwa kehamilannya merepotkan. Tapi bukan ngidamnya yang menyebabkan.

Belum Siap Menerima Kehamilan

Sebenarnya, persoalan mengidam bisa dilihat dari latar belakangnya. Mungkin saja si wanita mendengar cerita dari orang-orang tentang pengalaman mengidam, lalu ia jadi ingin ngidam juga. Latar belakang budaya juga ikut berpengaruh. Di negara Barat, misalnya, tak ditemukan istilah mengidam. Lagipula, di negara Barat orang sudah biasa mandiri. Mereka sudah sadar bahwa kehamilan membutuhkan kesiapan mental dan fisik. Nah, mereka yang mengidam ini, mungkin saja belum siap hamil. Karena jika belum siap hamil, besar kemungkinan mentalnya juga belum siap. Akibatnya, ia ‘meminta perhatian’ dari sang suami.

Karena itulah, kehamilan amat perlu disiapkan. Jangan sampai si wanita merasa cuma ia sendiri yang menanggung kehamilannya, padahal itu hasil “produksi” berdua.  Lain halnya jika pasangan, khususnya wanita, sudah merencanakan kehamilan dengan baik dan menyadari risiko dari kehamilan. Tingkat mengidamnya bisa berkurang karena ia sudah siap menghadapi segala risiko. Dengan menyadari dampak yang bakal timbul pada saat hamil, wanita bisa menyiapkan dirinya. Termasuk mengatasi perasaan dan kondisi tubuh yang sangat tak nyaman.



Buat para suami, jangan anggap enteng soal persiapan kehamilan ini. Sebab,ketidaksiapan istri menghadapi kehamilan adakalanya dapat menimbulkan keinginan “balas dendam” lewat mengidam. Tapi sangat jarang terjadi dan sifatnya sangat kasuistik. Kendati demikian, para suami perlu berhati-hati. Terlebih jika hubungannya dengan istri sudah tak baik. Jangan sampai suami menuntut harus punya anak sesegera mungkin padahal istrinya sama sekali belum siap. Apalagi ditambah tak ada perhatian sama sekali dari suami selama kehamilan. Si istri pasti akan marah besar. Jadilah ia ‘balas dendam’ lewat mengidam.

Mengidam, Tak Ada Kaitan dengan Bayi

Alhasil, mengidam juga tak ada kaitannya dengan si jabang bayi.  Yang sebenarnya terjadi ialah ada konflik psikologis pada si calon ibu apabila ngidamnya tak terpenuhi. Konflik psikologis ini bisa bermacam-macam. Mulai dari perasaan menolak kehamilan, yang bisa berpengaruh pada bayi. Perasaan penolakan pada kehamilan ini memungkinkan terjadi kelainan pada bayi. Depresi yang dialami ibu hamil akan besar sekali kaitannya dengan janin. Meskipun belum ada penelitian yang jelas menunjukkan bahwa ibu hamil yang depresi akan melahirkan anak yang depresi pula.

Korelasi yang biasanya muncul adalah jika selama hamil si calon ibu mengalami gangguan emosional, maka anak yang lahir berat badannya akan kurang dibanding berat badan bayi lain. Padahal, berat badan bayi sangat penting. Penelitian di Jepang menunjukkan, apakah anak itu akan tumbuh menjadi bayi yang sehat atau tidak, tergantung juga pada berat badan waktu lahir.

Mengidam Hanya Sebuah Mitos

Sayangnya, masyarakat terlanjur percaya bahwa wanita hamil pasti mengidam. Maka kalau ada yang tak mengidam, orang malah bingung. Ini cuma masalah persepsi. Orang menganggap, kalau hamil harus ngidam, padahal sebenarnya tidak. Apalagi jika pasangan, terutama si istri sudah siap menyambut kehamilan, umumnya tak akan mengidam.



Mengidam, tak ada sisi positifnya. Malah merepotkan. Yang ada cuma efek yang tak menguntungkan, misalnya, ibu hamil minta sesuatu tapi si suami tak mendapatkan. Bisa saja ia merasa kesal dengan segala efeknya. Misalnya, jadi malas makan atau muncul perasaan menolak kehamilan. Akibatnya tentu akan berpengaruh pada janin yang tengah dikandungnya.

Mengidam itu sebetulnya cuma mitos. Misalnya ibu hamil ngidam makan makanan pedas, maka anaknya kelak laki-laki. Padahal, Jenis kelamin sudah diketahui begitu terjadi pembuahan. Wanita hamil sebaiknya bertanya kepada dirinya jika muncul pikiran yang aneh-aneh di benaknya. Jadi, berpikirlah positif. Misalnya, “Sekian juta wanita hamil bisa menjalani kehamilannya dan melahirkan dengan baik, kenapa saya tidak?” Atau, “Bila saya enggak mau makan, nanti saya tak sehat. Kasihan bayi saya. Makanya saya harus makan.” Dengan demikian, wanita hamil akan siap secara psikologis. Kalau lebih siap secara psikologis, maka tak akan ngidam yang aneh-aneh. Wanita hamil sebaiknya mengendalikan diri. Dalam arti agar suasananya enak, termasuk hubungannya dengan si bayi yang tengah dikandung. Lagipula, Jika keinginannya aneh-aneh, tentu bisa menimbulkan konflik dengan pasangan, kan?.

Solusi Saat Istri Mengidam

Yang terpenting dalam kehamilan, ialah peran suami. Suami harus memahami bahwa wanita yang sedang hamil itu temperamental. Kadang ada suami yang tak menyadari dan malah ikut-ikutan emosi. Suami juga harus sadar, kehamilan si istri merupakan tanggungjawabnya juga. Jadi, apa salahnya suami memberi perhatian lebih pada sang istri dengan catatan, perhatiannya tak perlu berlebihan.

Misalnya, sepulang kantor suami menanyakan pada istri, “Gimana, mualnya sudah berkurang apa belum.” Ini saja sudah merupakan perhatian. Tapi jika sepulang kerja mendapatkan istri tengah muntah-muntah dan suami malah marah-marah, tentunya tak akan membantu istri. Suami sebaiknya tak menolak permintaan istri sepanjang permintaan itu masuk akal. Kalau tidak, bisa-bisa istri enggak terima. Jadi, berusahalah memenuhinya. Minimal, berusaha mencari apa yang diinginkan istri. Kalaupun nggak dapat, ya, nggak apa-apa. Yang penting, kan, sudah berusaha.

Suami memang diharuskan ekstra sabar dan mengerti bahwa kesehatan dan emosi sang istri harus dijaga betul. “Kalau tidak, istri bisa depresi. Suami harus berusaha untuk lebih toleran. Yang paling bagus adalah berkomunikasi dengan baik. “Misalnya, sepulang kantor istri sudah minta dimanja, suami bisa mengatakan, “Saya mandi dulu, ya.” Jika istri minta yang aneh-aneh, bicarakan juga secara baik-baik.” Misalnya istri minta durian padahal bukan musimnya, katakan, “Sekarang durian lagi enggak musim. Saya harus cari ke mana?” Cobalah juga untuk memberikan alternatifnya, “Bagaimana kalau mangga saja? Kemarin aku lihat di pasar ada mangga harumanis. Besar-besar dan matang. Pasti rasanya enak dan manis, deh.

Ajaklah istri ke suasana bercanda. Dengan begitu, istri juga bisa balik berpikir “biasa”. “Oh, benar, juga. Biar ingin durian tapi kalau lagi enggak musim, ya, susah juga carinya. Iya, deh, beli mangga saja.” Pengertian, toleransi, dan perhatian ekstra suami akan sangat berperan mengurangi beban psikologis istri. Cobalah bayangkan. Anda membawa sesuatu yang beratnya lebih dari sekilo di perut, menyita tempat hingga Anda sesak napas, dan selama 9 bulan tak bisa melakukan aktivitas yang biasanya gampang, padahal ini sesuatu yang penting. Tidak mudah, bukan?

Lagipula, tak ada ruginya berempati pada istri. Selain istri senang dan si janin bisa bertumbuh sehat, Anda pun jadi tak perlu kewalahan akibat mengidamnya istri.




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."