Tips Menyapih Tanpa MerepotkanMenyapih haruslah dilakukan secara tepat agar tidak berdampak buruk pada si kecil. Bagaimana caranya?

menyapih, tips menyapih, cara menyapih bayi

Bila waktunya tiba, menyapih atau menghentikan pemberian ASI harus dilakukan. Sebab, seiring bertambahnya usia, bayi membutuhkan nutrisi lain yang tidak bisa hanya dicukupi dari ASI, tapi juga makanan lainnya. Itu penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Di negara maju seperti Amerika, pemberian ASI dilakukan minimal bayi berusia 1 tahun. Sedangkan, di negara yang penduduknya mayoritas muslim seperti Indonesia, pemberian ASI sampai bayi berusia 2 tahun. Namun, adakalanya karena sesuatu hal, Ibu harus menyapih bayinya lebih awal. Misalnya, karena bekerja atau bertugas ke luar kota, sehingga tidak bisa memberikan ASI sepenuhnya untuk buah hatinya.

Atau bisa juga, karena Ibu menderita penyakit serius, seperti kanker, sehingga harus mengonsumsi obat-obatan. Meskipun ASI keluar, Ibu tidak boleh memberikan ASI untuk bayinya, karena dikhawatirkan malah berbahaya bagi bayinya. Di luar itu, Ibu sebaiknya tidak boleh memaksa menyapih bayinya, karena bisa berdampak buruk. Tidak hanya bagi bayi, tapi juga si Ibu. Dampak tersebut antara lain :

Tumbuh Kembang Bayi Terganggu
Hal itu bisa terjadi karena bayi menolak diberi susu lewat dot. Sebab, puting Ibu berbeda dengan dot yang dibuat dari karet atau silikon, sehingga bayi butuh waktu lama untuk penyesuaian menggunakan dot. Bila reaksi penolakan itu terus-menerus terjadi, tentu tumbuh kembangnya terganggu.



Muncul Kebiasaan Buruk
Menyusu membuat bayi terasa nyaman. Sehingga bila tiba-tiba bayi tidak diberi ASI dan diganti dengan benda asing di ulutnya, tentu dia akan merasa tidak nyaman. Kehilangan rasa nyaman itu tentu bisa memicu timbulnya kebiasaan buruk, seperti mengisap jari.

Melukai Hati si Kecil
Menyapih yang dilakukan secara paksa dan tiba-tiba, misalnya dengan mengoleskan getah brotowali yang sangat pahit pada puting dengan harapan si kecil tidak mau menetek, bisa mengagetkannya dan membuat hatinya terluka.

Ibu Tersiksa
Menyapih secara tiba-tiba di saat ASI masih keluar, bisa membuat Ibu tersiksa. Sebab, ASI yang penuh dan tidak dikeluarkan akan membuat payudara bengkak dan sakit.

Cara Tepat Menyapih Bayi Anda

Karena itu, agar tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, proses penyapihan harus dilakukan secara bertahap. Apalagi, menyapih adalah proses alamiah. Sebab, pada dasarnya harus berhenti minum ASI dan beralih mendapatkan makanan padat lainnya. Jadi, bila ASI masih keluar dan bayi masih mau meminumnya, ASI harus diberikan selama mungkin. Tentunya, pada saat yang bersamaan bayi harus diberikan makanan padat lainnya untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Nah, bila memang ASI sudah sedikit dan tidak cukup lagi untuk mendukung tumbuh kembang si kecil, menyapih boleh dilakukan, dengan tetap memperhatikan beberapa poin berikut.

1. Jangan Mendadak
Hindari menghentikan pemberian ASI secara mendadak dan langsung menggantikannya dengan susu formula.

2. Bertahap
Proses penyapihan harus dilakukan bertahap. Artinya, dilakukan sedikit demi sedikit dan membutuhkan waktu. Memang tidak ada patokan waktu kapan harus memulai dan selesainya. Semua bergantung pada Ibu dan bayinya.

  • Saat bayi tidak terlalu banyak membutuhkan ASI, misalnya pada siang hari, Ibu bisa memberikan susu formula agar bayi mengenal makanan lain selain ASI. Pada saat perkenalan itu, jangan memberikan susu formula pada saat bayi bangun pagi dan tidur malam. Karena pada saat itu bayi sangat membutuhkan ASI.
  • Setelah bayi mulai terbiasa minum susu formula, pemberiannya bisa ditambah. Bisa diseling-seling antara susu formula dan ASI.
  • Kemudian, secara perlahan ASI diganti sepenuhnya dengan susu formula. Hal ini bisa dilakukan ketika ASI memang sudah benar-benar tidak bisa diberikan.

Jika proses penyapihan  dilakukan secara perlahan, ASI yang diproduksi juga akan menyesuaikan. Artinya, secara perlahan ASI akan habis sendirinya. Banyak tidaknya ASI tergantung pada rangsangan isapan yang didapat dari bayi. Kalau jarang mendapat isapan, tentunya juga akan berkurang produksi ASInya.

Selama itu, tetap berikan kasih sayang ekstra agar si kecil tetap merasa diperhatikan, meski tidak mendapat ASI dari ibunya. Tetap sibukkan si kecil dengan kegiatan bermacam-macam agar sedikit-sedikit tidak merengek minta ASI.

Yang Harus Dihindari Saat Menyapih

Mengoleskan Obat Merah Pada Puting
Cara ini bisa saja menyebabkan anak keracunan, membuat si kecil merasa puting Ibunya tidak enak, bahkan menyebabkan sakit. Keadaan itu akan semakin parah bila Ibu melakukannya secara mendadak, karena dia merasa ditolak Ibunya dan merasa tidak dicintai. Hal itu bisa mempengaruhi kepribadian anak. Misalnya, jadi sulit menjalin hubungan intensif dengan orang lain.



Menempel Perban (Plester) Pada Puting
Cara ini lebih menyakitkan lagi bagi anak daripada mengoleskan obat merah pada puting. Jika menggunakan obat merah, si kecil masih bisa menyentuh puting Ibunya. Tapi, bila diplester tentu bayi tak bisa menyentuhnya, sehingga dia belajar bahwa puting Ibunya adalah sesuatu yang tak bisa dijangkau.

Mengoleskan Zat Berasa Pahit
Pada awalnya si kecil tidak menikmati karena merasakan pahit. Namun, lama-kelamaan anak juga bisa menikmatinya dan bergantung pada rasa pahit itu. Sebab, meski pahit ia masih bisa mengulum puting Ibunya tersebut. Dampaknya, anak akan mengembangkan kepribadian ambivalen. Artinya, dia tidak paham apakah Ibu mencintainya atau tidak. Sebab, dia berpikir, ‘Ibu memberikan ASI tapi mengapa rasanya pahit tidak seperti biasanya’. Kepribadian ambivalen itu tentu tidak menyenangkan untuk pertumbuhannya di kemudian hari. Anak akan mengembangkan kecemasan dalam hubungan interpersonal nantinya.

Cuek Bila si Kecil Minta ASI
Anak Anda akan bingung dan bertanya-tanya, mengapa bisa diperlakukan seperti itu. Dampaknya, anak merasa tak disayang, merasa ditolak, sehingga berkembang rasa rendah diri.

Tidak mudah untuk melalui tahapan-tehapan tersebut, termasuk mengenalkan alat-alat yang digunakan untuk menyapih si kecil. Misalnya, si kecil tidak langsung mau menerima dot yang dibuat dari silikon, karena merasa nyaman dengan puting Ibunya. Karena itu, Ibu harus memperhatikan peralatan yang akan dipakainya untuk menunjang proses penyapihan. Selain itu, anak juga perlu dilatih untuk menggunakan alat tersebut agar terbiasa. Botol atau cangkir berwarna lucu dan cerah bisa dijadikan pilihan agar si kecil tertarik menggunakannya. Bila perlu, ajaklah si kecil ketika membeli agar dia memilih sendiri bentuk, warna botol atau cangkir yang disukainya. Sebaiknya, isi botol atau cangkir bukan hanya susu, tapi usahakan selingi dengan minuman lain seperti sari buah. Dengan begitu, si kecil dapat mengenal makanan lainnya selain susu. Minum dengan botol atau cangkir memang harus dibiasakan sebeblum pemberian ASI dihentikan total. Misalnya, setiap kali si kecil makan, tuangkan minuman kesukaannya ke dalam botol atau cangkir dan letakkan di dekat jangkauannya agar dia bisa mengenalinya.

 




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."