Bagikan :

spiritual menurut agama islam, pengertian spiritual menurut para ahli, contoh spiritual, pengertian spiritual dan religius, spiritual jawa
Apa Arti Sebenarnya Menjadi Lebih Spiritual?Ada banyak hal yang mendefinisikan tentang apa artinya menjadi spiritual. Beberapa orang mengatakan spiritualitas diukur dengan seberapa dalam Anda mampu mencintai diri sendiri, dan selebihnya mengatakan hal itu diukur dengan pemahaman Anda tentang segala kesatuan semesta. Kita semuanya sebenarnya adalah makhluk spiritual. Semua orang, segala sesuatu. Meski Anda tidak/belum menyadarinya.

Pada intinya, menjadi spiritual adalah tentang memilih untuk menjalani hidup Anda sesuai dengan apa yang Anda yakini. Menjadi spiritual pada dasarnya adalah tentang menerima siapa diri Anda, kemampuan menjadi diri sendiri, dan menyelaraskan dengan kebenaran jiwa Anda.

Pernahkah Anda membayangkan, di planet ini ada berapa banyak orang yang beragama? Berapa banyak tempat ibadah? Berapa banyak orang yang taat menjalankan ritual agamanya? Kita tahu jumlahnya luar biasa banyak. Tapi mengapa kemiskinan, kelaparan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, peperangan dan bencana alam terus merajalela? Sudah berapa banyak dari kita memohon, berdoa pada Tuhan YME untuk mengakhiri semua itu? Tapi kegelapan tak kunjung sirna, bahkan manusia semakin individualis, saling berebut kekuasaan demi perutnya sendiri. Lalu, apa yang keliru?

Ini karena mayoritas manusia Bumi hanya terfokus menjadi religius, bukan spiritual. Spiritual berbeda dengan religius. Spiritual tak ada hubungannya dengan agama. Tuhan menghendaki kita untuk menjadi manusia spiritual, bukan religius. Tiap agama mengklaim bahwa ajaran mereka yang paling benar dan lainnya salah. Apakah sesungguhnya Tuhan lebih menyukai agama tertentu? Jika iya, mengapa setiap terjadi bencana Tuhan tak hanya menyelamatkan umat agama tertentu? Bila kita mampu melihatnya secara universal atau dengan perspektif Tuhan, maka kita akan bisa melihatnya secara keseluruhan, bukan hanya dari sisi kiri, kanan, depan, atau belakang, namun kita akan melihatnya secara utuh, dalam keseluruhan yang nyata, dan kita akan memperoleh kebenarannya. Karena dengan itulah Tuhan melihat, tidak pernah melihat di satu sisi atau keadaan yang dialami mahluk-mahlukNya secara subjektif, namun secara menyeluruh, dan hal inilah yang merupakan sifat Tuhan Yang Maha Adil.

Apa makna spiritualitas yang sebenarnya?
Spiritualitas yang sesungguhnya adalah kemampuan setiap jiwa untuk hidup selaras dengan Sang Pencipta, hidup sesuai kehendakNya. Lalu bagaimanakah hidup yang selaras dengan Sang Pencipta itu? Ingatlah bahwa, Tuhan kita ada dalam setiap ciptaanNya. Oleh karena itu hidup selaras dengan Sang Pencipta, adalah dengan hidup harmonis dengan seluruh mahlukNya. Ini menyangkut kasih dan kesadaran, inilah inti dari spiritualitas. Hanya kasih dan kesadaran-lah yang menentukan kualitas jiwa seseorang.

Semua orang tentu sudah tak asing lagi dengan istilah ‘Kasih dan Cinta’. Tapi apakah kita benar-benar mengerti apa itu ‘kasih’ atau ‘cinta’? Cinta = kasih, cinta adalah mengasihi, memberi tanpa mengharapkan imbalan (tanpa syarat). Tidakkah itu sederhana? Konsep CINTA mayoritas manusia Bumi yang amat sempit, membuat dirinya hanya memikirkan pasangan dan keluarganya. Padahal wujud cinta yang sesungguhnya adalah mengasihi tanpa imbalan kepada semua manusia, hewan, tumbuhan, seisi Bumi, dan semua makhluk alam semesta.

Makna ‘Kasih’ yang lebih dalam dapat dilihat dari kualitas-kualitas seperti : Kasih itu tak mengenal benci. Kasih tak mengenal keserakahan. Kasih tak mengenal kecemburuan. Kasih tak mengenal iri-dengki. Kasih tak mengenal kesombongan. Kasih itu tidak mengenal kebohongan. Kasih tak mengenal kompetisi. Kasih tak mengenal saling menyakiti. Kasih itu selalu melindungi, dsb. Nah, dari kualitas-kualitas itu sudah berapa banyak yang ada pada diri kita? Sudahkah kita hidup dengan Kasih?

Spiritualitas juga tak lepas dari faktor Kesadaran (Awareness), orang yang sadar pasti mengerti. Kesadaran disini adalah pemahaman bahwa semua mahluk Tuhan adalah satu, bagian dari Sang Sumber. Seseorang yang sadar bahwa setiap mahluk Tuhan saling terhubung, bahwa kita semua adalah satu, tentu tak akan pernah mau menyakiti yang lainnya. Ini bisa diibaratkan kita adalah satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh ada yang sakit, tentu seluruh tubuh akan merasakannya. Namun apa yang terjadi saat ini? Manusia seenaknya merusak alam, Bumi tempat tinggalnya sendiri, manusia lain, bahkan dirinya sendiri. Polusi di tanah, air, udara, juga di tingkat ether dari pikiran dan emosi negatif manusia. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, anarki, kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia Bumi bersuka ria atas semua itu.



Kesadaran yang selanjutnya adalah mengerti bahwa Tuhan tak hanya menciptakan manusia sebagai satu-satunya makhluk Bumi di jagat raya yang amat luas ini. Kita tahu Tuhan kita Maha Bijaksana, Dia tak akan memboroskan energi yang besar, untuk menciptakan jagat raya ini hanya untuk satu ras manusia Bumi dan sisanya dibiarkan kosong begitu saja. Apalagi harus menunggu manusia Bumi untuk bisa menjangkau lalu menempatinya. Umur bumi kita setidaknya sudah 5 milyar tahun, selama itu bahkan untuk menjelajah angkasa raya ini saja manusia Bumi belum mampu. Pemahaman mayoritas manusia Bumi tentang mahluk Tuhan sangatlah sempit, yang mereka tahu hanya tumbuhan, hewan, manusia, dan makhluk astral (jin). Kenyataan bahwa jagat raya ini amatlah luas, dengan banyaknya planet/bintang yang ukurannya jauh lebih besar dari Bumi, penampakan crop circle, spaceship, pesan via channeling serta peradaban kuno yang berteknologi canggih, itu semua adalah bukti bahwa manusia Bumi tidak sendirian. Ditambah dogma-dogma yang mengatakan bahwa manusia Bumi adalah mahluk Tuhan paling sempurna, membuat mereka semakin besar kepala saja. Jika memang manusia Bumi adalah mahluk Tuhan paling sempurna, lalu apa kelebihan manusia Bumi dibanding makhluk dari dimensi-dimensi lain? Melihat mereka saja tak mampu. Dari segi kemampuan fisik, jelas makhluk dari dimensi-dimensi lain lebih unggul, mampu berubah-ubah bentuk, berumur panjang, mampu telepati, telekinesis, teleportasi. Dari segi spiritualitas makhluk dari dimensi-dimensi lain lebih mengerti dibanding manusia Bumi. Dari ilmu pengetahuan dan teknologi astral pun tak kalah dengan manusia. Lalu apa yang ingin kita banggakan?

Selanjutnya adalah sadar bahwa setiap jiwa akan mengalami proses pembelajaran dalam hidupnya melalui proses reinkarnasi. Perjalanan hidup kita ini seperti sekolah, tujuannya untuk belajar, supaya paham makna hidup juga esensi Tuhannya. Seperti sekolah, kehidupan juga ada level/tingkatannya, itulah sebabnya mengapa ada perbedaan dimensi kehidupan di alam semesta ini. Jika kita telah lulus di suatu tahap, maka kita akan naik ke tahap selanjutnya, tahap yang lebih tinggi. Tetapi jika tidak lulus, akan mengulang di tahap yang sama, atau bahkan tahap yang lebih rendah. Saat kelulusan dari semua tahap adalah saat kita kembali pada Sang Pencipta. Keberadaan astral di dimensi yang lebih tinggi dari manusia Bumi sudah jelas membuktikan adanya perbedaan dimensi dalam kehidupan makhluk-makhlukNya.

Konsep inilah yang sejak lama diajarkan oleh para avatar, nabi-nabi, spiritual master, lightworker seperti Jesus, Buddha, Kwan Yin, Khrisna dan lainnya. Mereka tak ingin disembah. Mereka ingin manusia Bumi menjadi master seperti mereka. Namun manusia Bumi malah salah menginterpretasikan ajaran mereka hingga kini.

Pada kenyataannya kebanyakan Extraterrestrial (ET) sudah menguasai apa itu spiritualitas sesungguhnya. Oleh karena itu, mereka sudah dapat hidup di dimensi lebih tinggi. Mereka mengerti bahwa alur yang baik adalah dengan menguasai spiritualitas terlebih dahulu, barulah teknologi. Sehingga ilmu pengetahuan, teknologi, peradaban mereka maju dengan pesat. Merekapun mampu hidup harmonis dengan sesamanya, dan juga menjaga alam semesta. Berkebalikan dengan di Bumi dimana masih banyak mengabaikan spiritualitas, mementingkan perkembangan teknologi namun digunakan untuk perang dan merusak planetnya sendiri. Spiritual ET sadar bahwa semua makhluk di alam semesta adalah satu. Untuk itu mereka tak henti-hentinya mengingatkan kita untuk meningkatkan spiritualitas seiring dengan masa transisi/transformasi/evolusi Bumi yang sudah di depan mata (Dimensi Kelima).

Seseorang yang sudah mengerti spiritualitas yang sesunguhnya akan menyadari betul bahwa planet ini sungguh-sungguh rusak. Bahwa Ibu Bumi (Gaia) sungguh-sungguh menderita karena ulah manusia dan berada di ambang kehancuran. Mereka akan merasa sangat tidak nyaman hidup di Bumi seperti ini.

Untuk itulah ada campur tangan Tuhan. Sekali lagi Tuhan kita yang sangat welas asih tak akan membiarkan mahlukNya menderita tanpa akhir. Tuhan sudah memutuskan penderitaan Ibu Bumi cukup sampai disini. Bumi harus bertransisi/bertransformasi/berevolusi dengan meningkatkan vibrasinya. Dan semua manusia yang ingin hidup di Bumi yang baru harus bisa menyesuaikan vibrasinya dengan Ibu Bumi. Jika tidak, maka tak akan bisa bertahan hidup di atasnya lagi. Untuk itu akan ada seleksi untuk memilih siapa-siapa yang berhak hidup di Bumi yang baru. Ini dilakukan dengan jalan pemurnian, pembersihan total dari semua energi negatif. Akan ada kekacauan dimana-mana, banyak sekali bencana, juga kehilangan. Tapi itu perlu dilakukan, demi terciptanya Bumi sesuai rencana Tuhan semula, demi tercipta kerajaan SurgaNya. Lalu bagaimana caranya untuk bisa menaikkan vibrasi kita supaya selaras dengan Ibu Bumi? Jawabannya adalah dengan meningkatkan spiritualitas. Jadi, sudah seberapa siapkah kita untuk menghadapi masa-masa transisi tersebut, sudah seberapa spiritualkah diri kita?



Loading...
Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, jadikanlah semua pembacaku selalu sehat, berbahagia, serta berilah rezeki yang melimpah. Aamiin...."