Bagikan :

spiritual, narsis spiritual, spiritualis narsis
Ciri-Ciri Seorang Spiritualis NarsisNarsisme bukan hanya soal selfie, mematuk diri, lantas posting di media sosial, tetapi lebih dalam dari itu. Narsisme bisa datang dengan beragam bentuk, yang saya bahas disini salah satunya yaitu narsis spiritual. Ada saat tertentu dimana kita terlalu membanggakan agama kita, ibadah kita, dan mengolok-olok orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita. Semua itu merupakan jebakan ego sangat halus yang dapat merusak hubungan, meningkatkan penderitaan pribadi, dan justru semakin menjauhkan seseorang dari esensi spiritualitas sejati mereka.

Praktik spiritual sejatinya dimaksudkan membangunkan kesadaran manusia supaya bisa belajar untuk melepaskan cengkeraman ego dan selalu terhubung dengan Diri Sejati, sehingga kita dapat hidup selaras dengan tujuan, lebih membumi, melayani, dan selalu mengembangkan sikap welas asih. Itulah sebabnya orang yang benar-benar menerapkan praktik spiritual dalam kehidupan sehari-harinya akan kelihatan dari tutur kata dan menjaga sikapnya agar tidak menyakiti orang lain, tidak mau diakui yang paling benar karena dia tahu kebenaran hanya milik Tuhan YME. Mereka sangat menghargai perasaan orang lain sama seperti mereka menghargai diri sendiri.

Apa itu Narsis Spiritual?
Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Ada kalanya, praktik spiritual seseorang ini bisa berubah arah menjadi bersifat narsistik. Ketika ego mulai mengambil alih proses dan mengasumsikan bahwa apa yang sudah dilakukannya merupakan objek mencintai diri, dan merasa bahwa jalannya sudah benar. Ini terjadi pada seorang narsisis spiritual (orangnya disebut dengan spiritualis narsis), yaitu seseorang yang menggunakan konsep-konsep spiritualitas untuk membangun superioritas mereka sendiri, di satu sisi mereka merugikan orang lain. Penyakit ego ini bisa menjangkiti siapa saja. Biasanya hal ini didasari untuk mengejar keuntungan pribadi/kelompok, entah itu demi materi, ketenaran, atau bisa juga pengaruh politik. Di bawah ini adalah ciri-ciri seorang spiritualis narsis.



Mereka sering menceritakan pencapaian mereka
Spiritualis narsis suka mempromosikan diri dan menceritakan pencapaian mereka, bahkan dengan komunitas sesama spiritualis. “Aku bisa meditasi berjam- jam.”, “Aku punya tenaga dalam”, “Kamu bisa melihat makhluk halus? aku bisa”, dsb. Bagi mereka, setiap percakapan adalah kesempatan untuk bercerita betapa spiritualnya mereka. Mereka biasanya membahas hal ini dengan mencatat pencapaian mereka sendiri. Spirituais narsis akan menceritakan apapun yang mereka yakini dapat membuat mereka dipuji orang.

Baca Juga -  Cara Mengatasi Kebimbangan Setelah Kebangkitan Spiritual

Mereka menyerang pencapaian orang lain
Narsisis spiritual suka mengendalikan orang, dan pastinya sumber referensi mereka selalu merupakan pencapaian mereka sendiri. Akibatnya, tidak jarang bagi mereka menyerang pribadi orang lain yang berseberangan pemikiran. Mereka akan sering melakukan ini dengan kedok “membantu” atau “mengoreksi” seseorang, tetapi mereka tidak memiliki minat nyata dalam dialog secara personal. Mereka juga memiliki cara untuk menyuntikkan pendapat mereka ke dalam pikiran orang lain, memaksa supaya mengakui pencapaiannya. Tidak ada cara yang baik untuk berbicara dengan spiritualis narsis. Langkah terbaik yang dapat Anda lakukan adalah menghindari saja agar tidak diintimidasi dengan pola pikirnya.

Mereka memanfaatkan kata-kata orang lain untuk mengontrol orang
Narsisis spiritual sering menggunakan kata-kata kutipan sebagai alat untuk memuluskan tujuan mereka. Mereka mengambil beberapa kata yang paling mengena dari orang-orang berpengaruh dan mendekati orang-orang yang berpikiran tertutup/mudah dikendalikan. Mereka biasanya mencomot beberapa kutipan yang akan membenarkan perilaku mereka. Mereka mengabaikan kutipan yang bertentangan dengan tindakan mereka.

Baca Juga -  8 Alasan Mengapa Kita Harus Memaafkan Meski Tidak Dimaafkan

Mereka mengaku memiliki cinta kasih, tetapi tidak pernah menunjukkannya
Mungkin cara termudah untuk mengidentifikasi seorang spiritualis narsis adalah dengan cara mengamati perilakunya, apakah tindakan mereka sesuai dengan kata-kata mereka. Banyak yang mengklaim bahwa mereka mengembangkan cinta kasih untuk semua makhluk dan mengatakan bahwa “kita semua terhubung”, “semoga semua makhluk berbahagia”, tetapi tindakan mereka malah jauh dari cinta kasih itu sendiri. Cinta itu lebih dari sekedar kata-kata, cinta adalah tindakan nyata. Itulah yang membedakan orang yang benar-benar spiritual dan narsis spiritual.

Mereka ingin didengar, tetapi tidak mau mendengarkan orang
Mendengarkan bisa menjadi alat yang baik untuk semua orang. Mendengarkan dapat membangun kepercayaan, menciptakan empati, dan menumbuhkan pemahaman diantara individu. Sebaliknya, spiritualis narsis sangat ingin didengar, mudah tersinggung, dan tidak mampu mendengarkan pendapat orang lain. Mereka menikmati saat-saat menjadi orang yang paling berpengaruh, dan tidak membiarkan orang lain mengemukakan jalan pikirannya.

Sah-sah saja kita berbangga pada pencapaian spiritual kita sendiri, tapi cukup simpan dalam hati, tak perlu mencari pengakuan. Jangan sampai pencapaian spiritual ini sebagai alat untuk menjatuhkan orang lain, menilai mereka sebagai ‘kurang spiritual’ dsb. Itu akan membuat kita kembali jatuh dalam lubang kegelapan, bukan pencerahan.





Loading...
Bagikan :