Bagikan :

dzikir, spiritual, teori singularitas hawking

Dzikir dan Singularitas Stephen HawkingSpiritualitas adalah pengalaman pengembaraan jiwa menuju kesadaran dimana kita mengalami universalitas. Sebuah upaya untuk memahami hidup dan realitas dengan cara yang sublim dan bermakna. Ia memadukan nalar, rasa, dan jiwa dalam denyut nadi semesta.

Ada kesamaan antara tasawuf dan teori singularitas kuantum. Suatu cara memandang dunia yang sangat mirip diantara para sufi dan ahli fisika modern. Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang mekanistik, bagi para sufi segala sesuatu dan peristiwa dirasakan saling terkait, terhubung, dan ini adalah aspek atau manifestasi berbeda dari realitas yang sama.

Sekilas tentang Teori Singularitas
Dr. Stephen Hawking dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan tulisan-tulisan terkenalnya dimana ia membicarakan teori-teori dan kosmologinya secara umum.

Lebih dari 15 milyar tahun yang lalu, penciptaan alam semesta dimulai dari sebuah singularitas dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, meledak, dan mengembang. Peristiwa ini disebut Dentuman Besar (Big Bang), dan sampai sekarang alam semesta ini masih terus mengembang hingga mencapai radius maksimum sebelum akhirnya mengalami Keruntuhan Besar (kiamat) menuju singularitas yang kacau dan tak teratur.

Dalam kondisi singularitas awal jagat raya, karena rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga akan menghasilkan besaran yang tidak dapat diperkirakan. Menurut Hawking kita tidak bisa menggunakan teori relativitas pada awal penciptaan ‘jagat raya’, padahal tahap-tahap pengembangan jagat raya dimulai dari situ, maka teori relativitas itu juga tidak bisa dipakai pada semua tahapnya. Di sini kita harus menggunakan mekanika kuantum. Penggunaan mekanika kuantum pada alam semesta akan menghasilkan alam semesta ‘tanpa pangkal ujung’ karena adanya waktu maya dan ruang kuantum.

Pada kondisi waktu nyata (waktu manusia) waktu hanya bisa berjalan maju dengan laju tetap, menuju nanti, besok, seminggu, sebulan, setahun lagi dan seterusnya, tidak bisa melompat ke masa lalu atau masa depan. Menurut Hawking, pada kondisi waktu maya (waktu Tuhan) melalui Wormhole (lubang cacing) kita bisa pergi ke waktu manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.

Hal ini bermakna, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking ‘telah ada dan sudah selesai’ sejak diciptakannya alam semesta. Selain itu melalui ‘lubang cacing’ inilah kita bisa pergi ke manapun di seluruh alam semesta dengan seketika. Eksistensi keadaan singularitas sebagai awal dari alam semesta ini telah difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya 30 :



“Dan apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”

Kesamaan antara eksperimen ilmiah dan pengalaman-pengalaman tasawuf mungkin tampak mengejutkan mengingat sifat dan cara pengamatan yang sangat berbeda ini. Fisikawan melakukan eksperimen yang melibatkan kerja sama tim yang rumit dan teknologi yang sangat canggih, sedangkan para sufi ‘hanya’ memperoleh pengetahuan mereka murni melalui kontemplasi, tanpa mesin, dalam heningnya meditasi atau Dzikir.

Dzikir
Tujuan dasar Dzikir adalah untuk menghentikan pikiran sadar (Gelombang Beta) untuk menggeser kesadaran dari rasional ke mode kesadaran intuitif (Gelombang Alpha kebawah). Penghentian pikiran dicapai dengan memusatkan perhatian pada satu hal, seperti napas, suara Allah atau ‘La ilaha illa Allah’. Bahkan melakukan sholat dianggap sebagai Dzikir untuk membungkam pikiran rasional.

Jadi sholat mengarah pada perasaan damai dan ketenangan yang menjadi ciri dari bentuk yang lebih statis dari Dzikir. Keterampilan ini digunakan sebagai cara untuk mengembangkan meditasi kesadaran. Dalam Dzikir, pikiran dikosongkan dari semua pikiran dan konsep-konsep dan dengan demikian siap untuk memfungsikan modus intuitif untuk jangka panjang. Ketika pikiran rasional dibungkam, modus intuitif menghasilkan kesadaran yang luar biasa, sekitar kita akan dialami dalam cara langsung tanpa filter pemikiran konseptual. Pengalaman kesatuan dengan keseluruhan merupakan ciri utama kondisi meditatif ini. Para pendaki spiritual dapat mencapai keadaan kesadaran singularitas/keganjilan (zuhud) dimana mereka melampaui dunia tiga dimensi kehidupan sehari-hari dan menembus realitas multidimensi yang lebih tinggi.

Dalam dunia spiritual tidak ada pemisahan waktu seperti masa lalu, sekarang, dan masa depan, karena mereka telah menyatu menjadi satu momen kehidupan masa kini dalam arti sebenarnya. Ini adalah keadaan kesadaran di mana setiap bentuk fragmentasi telah berhenti, memudar menjadi kesatuan yang tidak bisa dibedakan.

Fisika kuantum dan tasawuf adalah dua manifestasi komplementer dari pikiran manusia dari pemahaman yang rasional dan intuitif. Fisikawan modern meneliti dunia melalui spesialisasi yang ekstrem terhadap pikiran rasional, sedangkan Sufi melalui spesialisasi ekstrim dari pikiran intuitif. Keduanya diperlukan untuk pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia.

Pengalaman tasawuf diperlukan untuk memahami hakikat terdalam terhadap segala hal dan ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan modern. Oleh karena itu kita memerlukan interaksi dinamis antara intuisi tasawuf dan analisis ilmiah. Wallahu a’lam.



Loading...
Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, jadikanlah semua pembacaku selalu sehat, berbahagia, serta berilah rezeki yang melimpah. Aamiin...."