Bagikan :

ketidaksadaran kolektif, ketidaksadaran kolektif carl jung
Memahami Konsep Ketidaksadaran KolektifKetidaksadaran kolektif adalah sistem kepercayaan umum bahwa setiap manusia mewarisi ingatan-ingatan laten dari generasi masa lalu, leluhur pramanusiawi, atau nenek moyangnya. Beberapa ingatan psikik ini sudah tertanam sebagai pengalaman-pengalaman berulang dalam pikiran kita jauh sebelum kita mulai belajar memahami kehidupan. Bramardianto.com menjelaskan konsep universal dan unik dari ketidaksadaran kolektif ini. Mari kita baca…

Ketidaksadaran kolektif, sebagai kata benda, didefinisikan sebagai -. “Bagian dari pikiran bawah sadar yang menggabungkan pola ingatan, naluri, dan pengalaman semua umat manusia dimana pola ini diwariskan. Dapat disusun menjadi arkhetipe, dan efeknya dapat diamati melalui mimpi, perilaku mereka, dll”

Istilah ketidaksadaran kolektif diciptakan oleh psikolog ternama, Carl Jung. Dia menyatakan bahwa selain pikiran bawah sadar seorang individu, ada ketidaksadaran umum yang hadir dalam diri kita semua, semua umat manusia. Dia mengatakan bahwa kita semua dilahirkan dengan seperangkat keyakinan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ketidaksadaran ini tidak terbentuk karena pengalaman hidup kita saat ini, tetapi memang sudah ada dari awal evolusi kehidupan.

Pikiran Sadar
Pikiran terdiri dari dua bagian : pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar adalah proses mental yang bisa kita kendalikan secara sengaja. Jung juga menjelaskannya sebagai ego. Ini adalah bagian dari pikiran yang kita sadari. Ketika kita bertindak pada situasi tertentu atau mengalami perasaan tertentu, kita menyadari apa yang terjadi di dalam pikiran kita, yaitu, kita sadar melakukan atau merasakan sesuatu. Ini adalah keadaan pikiran yang mempengaruhi kita sebagian besar waktu, dimana kita berpikir, merasa, dsb.

Pikiran Bawah Sadar
Setelah pikiran sadar, ada pikiran yang berfungsi secara otomatis dan sulit untuk dikendalikan secara sengaja, yaitu – pikiran bawah sadar. Ini bagian dari pikiran yang menyimpan kenangan, kebiasaan, perasaan, ingatan jangka panjang, persepsi, kepribadian, intuisi, kreativitas, dan keyakinan. Sebagian besar keputusan yang kita buat, semua bergantung pada pikiran bawah sadar kita, tapi kita tidak pernah menyadari hal itu. Ini mengatur apa yang kita pikirkan dan lakukan, misalnya, mengambil keputusan besar untuk memilih jika dihadapkan banyak pilihan, jalur karir yang harus diambil, keputusan menikah, dll. Semuanya dipandu oleh pikiran bawah sadar kita.

Ketidaksadaran Kolektif dan Arkhetipe-nya
Freud menyebut pikiran bawah sadar sebagai pikiran bawah sadar, tapi Jung menyebutnya ‘ketidaksadaran personal.’ Dia percaya bahwa masih ada sisi lain yang disebut ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran kolektif ini terwaris melalui nenek moyang kita, atau juga umat manusia pada umumnya. Konsep ini sebenarnya sama seperti Anda mewarisi bentuk mata seperti ibu Anda atau pembawaan seperti ayah Anda. Jung menyebutnya “reservoir pengalaman spesies”.

Jung mengatakan bahwa ketidaksadaran kolektif terdiri dari arkhetipe psikologis. Arkhetipe adalah suatu bentuk pikiran ( ide) universal yang mengandung unsur emosi yang besar. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran atau visi yang dalam kehidupan normal berkaitan dengan aspek tertentu dari situasi. Asal usul arkhetipe merupakan suatu deposit permanen dalam jiwa dari suatu pengalaman yang secara konstan terulang selama banyak generasi. The American Heritage Dictionary mendefinisikan arketipe sebagai “pola warisan pemikiran atau citra simbolik yang berasal dari pengalaman kolektif masa lalu dan akhirnya sekarang tertanam di bawah sadar individu.” Berikut ini adalah beberapa arkhetipe yang membentuk bagian dari konsep kolektif.

1. Persona
Persona adalah sisi kepribadian yang ditunjukkan orang kepada dunia. Jung percaya bahwa setiap manusia terlibat dalam peranan tertentu yang dituntut oleh sosialnya. Agar menjadi sehat secara psikologis, Jung percaya bahwa kita harus bisa mempertahankan keseimbangan antara harapan sosial dengan bagaimana kepribadian kita sebenarnya. Agar kita dapat melupakan persona seseorang adalah dengan cara mengurangi tingkat kepentingan harapan sosial, tetapi untuk tidak menyadari individualitas terdalam seseorang adalah dengan menjadi boneka masyarakat (Jung dalam Feist, 2010).

2. Bayangan (shadow)
Merupakan arkhetipe dari kegelapan dan represi yang menampilkan kualitas-kualitas yang tidak kita akui keberadaannya serta berusaha disembunyikan dari diri kita sendiri dan orang lain. Kita cenderung lebih mudah memproyeksikan sisi gelap kepribadian orang lain, dengan melihat kejelekan dan sifat jahat orang lain, tapi kita tidak ingin melihatnya pada diri sendiri. Untuk dapat menguasai kegelapan dalam diri kita adalah dengan berlatih mencapai “realisasi bayangan”.



3. Anima
Seperti Freud, Jung juga percaya bahwa semua manusia secara psikologis bersifat biseksual dan memiliki sisi maskulin dan feminin. Sisi feminin seorang pria terbentuk dalam ketidaksadaran kolektif sebagai arkhetipe dan menetap pada kesadaran. Untuk dapat menguasai anima, seorang pria harus melampaui batasan intelektualnya, jauh ke bagian terdalam ketidaksadarannya dan menyadari sisi feminin dari kepribadiannya. Anima itu tidak selalu tampil dalam mimpi sebagai sosok wanita, tetapi bisa berupa perasaan atau mood (Jung dalam Feist, 2010).

4. Animus
Sedangkan Animus adalah arkhetipe maskulin pada wanita. Bila anima mempresentasikan mood dan perasaan yang irasional, maka animus merupakan simbol dari proses berpikir dan bernalar. Jung percaya bahwa animus bertanggung jawab dalam proses berpikir dan berpendapat seorang wanita, sama dengan anima yang menghasilkan perasaan dan mood seorang pria. Animus juga merupakan penjelasan mengapa perempuan terkenal dengan proses berpikir yang irasional dan pendapatnya yang tidak logis. Bila seorang wanita lebih didominasi oleh animus, maka tidak ada pemikiran logis atau penampakan emosi yang mampu menggoyahkan kepercayaannya (Jung dalam Feist,2010). Seperti anima, animus juga muncul dalam bentuk mimpi, penampakan, dan fantasi yang dilebih-lebihkan.

5. Ibu Agung (Great Mother)
Ibu agung (great mother) dan orang tua bijak (the wise old man) adalah dua arkhetipe lain yang diturunkan dari anima dan animus. Konsep mengenai ibu ini dikaitkan dengan perasaan positif dan negatif. Great mother menampilkan dua dorongan yang berlawanan. Pada satu sisi, dorongan untuk kesuburan dan pengasuhan, serta di sisi lain, kekuatan untuk menghancurkan. Kesuburan dan kekuatan dikombinasikan untuk melahirkan sebuah konsep rebirth (kelahiran kembali), yang mungkin merupakan sebuah arkhetipe yang berbeda, tetapi hubungannya dengan great mother sudah sangat jelas. Manusia di seluruh dunia digerakkan oleh keinginan untuk dilahirkan kembali, dengan tujuan mencapai apa yang disebut dengan realisasi diri, surga, atau kesempurnaan (Jung dalam Feist, 2010).

6. Orang Tua yang Bijak (The Wise Old Man)
Orang tua yang bijak (the wise old man) merupakan sebuah arkhetipe dari kebijaksanaan dan keberartian yang menyimbolkan pengetahuan manusia akan misteri kehidupan. Seseorang yang didominasi oleh arkhetipe jenis ini mungkin akan memiliki banyak pengikut dengan menggunakan berbagai pendapat yang terdengar meyakinkan, tetapi sesungguhnya tidak berarti karena ketidaksadaran kolektif tidak dapat mengarahkan kebijakan pada individu tertentu.

7. Pahlawan (Hero)
Direpresentasikan dalam mitologi dan legenda sebagai seseorang yang sangat kuat, bahkan terkadang merupakan bagian dari Tuhan, yang memerangi kejahatan dalam bentuk naga, monster, atau iblis. Pada akhirnya, seorang pahlawan kerap dikalahkan oleh seseorang atau sesuatu yang sepele. Asal muasal pahlawan bermula dari masa awal sejarah manusia hingga timbulnya kesadaran. Ketika mengalahkan seorang karakter jahat, seorang pahlawan secara simbolis mengatasi masalah ketidaksadaran pramanusia. Arkhetipe mengenai seorang pahlawan yang memenangi pertempuran mempresentasikan kemenangan dalam mengatasi kegelapan atau masalah (Jung dalam Feist, 2010).

8. Diri
Jung mempercayai bahwa setiap orang memiliki kecenderungan untuk bergerak menuju perubahan, kesempurnaan, dan kelengkapan, yang diwarisi. Disposisi bawaan ini disebut sebagai diri (self). Diri merupakan arkhetipe dari banyak arkhetipe karena sifatnya yang menarik arkhetipe jenis lain dan menyatukan kesemuanya dalam sebuah realisasi diri (self realization). Diri disimbolkan sebagai ide seseorang akan kesempurnaan, keutuhan, dan kelengkapan. Diri meliputi gambaran ketidaksadaran personal dan kolektif. Diri terdiri atas kesadaran dan ketidaksadaran pikiran.

Beberapa arkhetipe lain dalam konsep ketidaksadaran kolektif yang berhasil diidentifikasi adalah ibu, ayah, penipu, pahlawan, pejuang, anak, iblis, gadis, Tuhan, dsb. Tapi juga masih ada sejumlah besar arkhetipe-arkhetipe lain yang belum bisa dijelaskan semuanya.

Sekarang Anda tahu bahwa kita memiliki beberapa keyakinan yang diwarisi dan proses berpikir yang sama dengan orang lain terdahulu dan berulang. Konsep ketidaksadaran kolektif ini hanya menunjukkan kepada kita, bahwa di dalam alam semesta yang maha besar dan maha luas ini, sebenarnya tidak ada orang yang sendirian, karena semua umat manusia merupakan satu kesatuan besar.



Loading...
Bagikan :
home