Bagikan :

Tuhan, wujud Tuhan, melihat Tuhan

Mengapa Kita Tidak Bisa Melihat Wujud Tuhan? – Seorang astronot dan seorang ahli bedah otak berdiskusi tentang agama, keduanya orang yang tidak percaya adanya Tuhan. Sang astronot bercerita : “Saya pergi keluar angkasa berkali-kali, tapi tidak pernah melihat Tuhan dan Malaikat”. Mendengar perkataan seperti itu sang ahli bedah otak menimpali : “aku juga sudah mengoperasi banyak otak orang jenius, tapi aku tidak pernah menemukan satu pikiran pun disitu.” Katanya.

Dari perkataan sang ahli bedah otak sudah menunjukkan, bahwa bukan berarti pikiran itu tidak ada walaupun setiap waktu manusia menggunakan pikirannya tetapi tak pernah sekalipun kita melihat wujud dari pikiran itu sendiri. Pikiran bukanlah materi yang terlihat. Andaikata pikiran adalah materi, maka pikiran itu bisa dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang paling kecil seperti layaknya benda atau zat padat. Pisau yang bagaimana yang dapat memecah pikiran kita? tentunya tidak ada. Begitu juga dengan perkataan sang astronot itu, tidak membuktikan kalau Tuhan dan Malaikat tidak ada melainkan tidak terlihat karena bukan materi. Sejauh apapun Astronot menjelajahi ruang angkasa pasti tidak akan pernah menemukan malaikat apalagi Tuhan.

Memahami Eksistensi Tuhan Melalui Sains
Dalam dunia fisika kita mengenal adanya multidimensi. Menurut fisika partikel setidaknya ada sepuluh dimensi ruang dan dimensi waktu yang ada dalam penciptaan alam semesta. Jika ruang yang kita tempati ini adalah ruang material tempat planet dan galaksi, maka dimensi diluar dimensi kita adalah ruang immaterial. Kita hanya ‘terbiasa’ melihat tiga dimensi ruang dan waktu yang kita tempati saat ini, sehingga kita tidak bisa melihat benda-benda yang berada di luar jangkauan dimensi kita. Padahal, dimensi-dimensi lain yang ada di alam semesta ini dikatakan sebagai kesatuan dimensi yang sangat kompak yang membungkus dimensi kita.

  • Ruang 3 dimensi dibungkus oleh ruang 4 dimensi, anggap saja ini adalah lapisan pertama
  • Ruang 4 dimensi dibungkus oleh ruang 5 dimensi, anggap saja ini adalah lapisan kedua
  • Ruang 5 dimensi dibungkus oleh ruang 6 dimensi, anggap saja ini adalah lapisan ketiga
  • Ruang 6 dimensi dibungkus oleh ruang 7 dimensi, anggap saja ini adalah lapisan keempat
  • Ruang 7 dimensi dibungkus oleh ruang 8 dimensi, anggap saja ini adalah lapisan kelima
  • Ruang 8 dimensi dibungkus oleh ruang 9 dimensi, anggap saja ini adalah lapisan keenam
  • Ruang 9 dimensi dibungkus oleh ruang 10 dimensi, anggap saja ini adalah lapisan ketujuh

Makhluk di ruang dimensi 3, tidak bisa melihat makhluk yang ada di ruang dimensi 4, tetapi ini tidak berlaku sebaliknya, sedangkan makhluk di ruang dimensi 4 bisa melihat makhluk di ruang dimensi 3, begitu seterusnya, yang pada dasarnya makhluk disuatu dimensi tidak akan mampu melihat makhluk yang berada di dimensi yang lebih tinggi, sedangkan makhluk di dimensi yang lebih tinggi akan mampu melihat makhluk yang berada pada dimensi lebih rendah, dengan demikian misalnya ada makhluk di ruang dimensi 5 maka dia bisa melihat makhluk di ruang dimensi 4 dan 3. Begitu seterusnya.



Untuk memudahkan kita dalam memahami, berikut uraiannya :
Satu hal yang harus kita sadari adalah alam semesta dan seluruh kehidupan di dalamnya adalah penampakan Tuhan. Alam semesta tidak sama dengan Tuhan. Sehingga konsekuensinya sifat kehidupan itu sendiri adalah percikan dari sifat-sifat Tuhan. Jadi, apa salah satu sifat Tuhan? Salah satunya adalah sifat ‘Dwitunggal’ yaitu semua sifat ‘yang kita anggap berlawanan’ itu tergabung secara harmonis dalam dzatNya. Misalnya, Tuhan itu bukan laki-laki, bukan perempuan dan bukan pula banci. Tapi laki-laki dan perempuan itu BERASAL dari Tuhan. Inilah yang disebut sifat Dwitunggal.

Sifat dualitas pada hakikatnya adalah SATU. Ibarat sebuah koin pasti memiliki dua sisi. Namun, kedua sisi itu adalah bagian dari satu koin yang sama. Misalnya, dualitas antara Siang dan Malam. Kita menganggap dua hal itu berlawanan. Apakah mungkin Siang dan Malam bisa berjalan di waktu yang sama? Bisa! Saat Anda membaca catatan ini misalkan waktunya siang hari. Tapi bukankah di belahan bumi lain sedang berlangsung malam hari. Bukankah itu membuktikan Siang dan Malam terjadi dalam satu waktu? Hal ini menunjukkan bahwa Dualitas itu Semu. Dua hal itu sebenarnya “Satu Keu-Tuhan”.

Jika kita percaya dan menyakini bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan bukan lahir dari keabadian, maka kesepuluh dimensi yang membentuk alam semesta dijalankan oleh Tuhan. Karena Dia yang telah menciptakan dimensi ruang dan dimensi waktu di alam semesta ini. Kita yang berada di ruang dimensi 3 dan waktu, tidak akan mampu melihat segala sesuatu yang berada di ruang dimensi 4 sampai dengan 10 kecuali jika ada makhluk dari dimensi lain yang masuk ke dalam dimensi kita. Apalagi melihat yang menjalankan dan menciptakan dimensi-dimensi ruang dan waktu tersebut, yaitu Tuhan. Tuhan tidak butuh dimensi untuk menempatkan dimana diriNya, karena Dia ada sebelum dimensi ruang dan waktu tercipta dan berkuasa untuk melihat seluruh makhlukNya tanpa terkecuali.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-An’am ayat 103 :

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dia yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Tuhan Maha Tahu, pemilik semua pengetahuan. Demikian juga, kesadaran adalah inti dan sumber dari semua pengetahuan kita. Disitulah terletak semua pemahaman.

Tuhan adalah pencipta. Segala sesuatu di dunia kita, segala sesuatu yang kita lihat, dengar, rasa, bau, sentuh, setiap pikiran, perasaan, fantasi, pernyataan, harapan, dan ketakutan, itu semua adalah bentuk-bentuk yang berasal dari kesadaran. Semuanya diciptakan dalam ‘Kesadaran dari Kesadaran’. Seperti Tuhan, kesadaran ada di mana-mana. Apapun pengalaman kita, kesadaran selalu ada disana. Ia adalah kekal abadi. Wallahu a’lam.



Loading...
Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, jadikanlah semua pembacaku selalu sehat, berbahagia, serta berilah rezeki yang melimpah. Aamiin...."