Bagikan :

penderitaan, kesadaran, menghilangkan penderitaan
Penderitaan Sesungguhnya Jalan Menuju KesadaranDerita merupakan fenomena universal, sehingga tidak mengenal ruang dan waktu. Penderitaan merupakan pelajaran hidup utama yang diberikan oleh Sang Realitas kepada manusia-manusia agung yang menjadi tokoh dalam sejarah keagamaan dan kefilsafatan. Derita tak dapat dilepaskan dari adanya hasrat yang merupakan bagian dari karakter nafsaniah, mengingat derita pada dasarnya sering sebagai benih penguasaan dan jarang ditafsirkan sebagai benih pembebasan.

Secara etimologis, derita berasal dari kata Sanskrit “Dhrata” yang artinya “menahan” dan dalam terminologi Islam berarti “as-Shobr”, jadi secara definitif berarti menahan persangkaan terhadap kenyataan yang pada hakekatnya kosong tanpa makna atau sabar dalam menahan keinginan meskipun terasa menyakitkan. Akan tetapi pada umumnya, penderitaan sering dikonotasikan negatif, sehingga penderitaan sering menjadi momok yang menakutkan seperti fakir, hina, kesengsaraan, lapar, sakit, prahara, bencana dsb. Berbagai kasus penderitaan terdapat dalam hampir semua aspek kehidupan, sehingga penderitaan banyak mendasari tema besar agama dan kefilsafatan sepanjang sejarah manusia.

Hampir didalam literatur setiap agama mengajarkan tentang betapa pentingnya arti penderitaan untuk mencapai kebebasan dari jeratan nafsu, baik yang bersifat nafsaniah maupun hawaniah. Dalam ajaran Buddha terdapat doktrin “Kebenaran Mulia Rangkap 4”, yang mana semua ajarannya berkisar pada masalah penderitaan yang dilihat dari 4 segi yang berbeda, yaitu : akar masalah, sebab-sebab masalah, penyelesaian masalah, dan jalan pembebasan dari masalah. Penderitaan merupakan persoalan pelik didalam setiap aspek kehidupan manusia yang mana sebab-sebabnya berawal dari hasrat atau keinginan dan terproyeksi dalam 4 jenis penderitaan fisik yang berupa lahir, tua, sakit, dan mati serta dalam 3 jenis penderitaan psikis yang berupa berkumpul dengan sesuatu yang dibenci, berpisah dengan sesuatu yang dicintai, dan tidak mendapatkan apa-apa yang menjdi harapannya.



Penderitaan merupakan 5 agregat yang berupa bentuk fisik, emosi, persepsi, faktor kehendak kesadaran yang tunduk pada keterikatan batin yang mana setiap unsur agregat merupakan suatu koleksi dari berbagai unsure. Itu diilustrasikan sebagai subyek bagi kemelekatan dalam jati diri yang berupa “aku”. Semua pengalaman manusia dapat dianalisa dalam ke 5 agregat tersebut yang berupa “bukan milikku, bukan aku, dan bukan suatu diri”, itu semua hanyalah fenomena yang tak abadi, tak tetap, dan timbul untuk berlalu dalam pergantian waktu yang relatif singkat.

Dalam ajaran Islam, penderitaan juga banyak ditekankan dalam upaya pembebasan dari nafsu lawwamah dan amarah, seperti yang tersurat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (penderitaan)” (QS.90:4), “Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad (melawan nafsunya) diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang menderita” (QS.3:142), “…orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, ditengah peperangan, maka itulah orang-orang yang benar” (QS.2:177). Serta dalam beberapa Hadits seperti, “Sesungguhnya seorang mukmin dalam dunia ini tidak akan mendapatkan apa-apa selain ibadah dan penderitaan” (HQ. Ali bin Abi Tholib), “Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah padanya suatu kebaikan, maka dibebaninya dengan penderitaan” (HR.Abu Hurairah), “Wajiblah bagimu untuk menderita, karena penderitaan itu kuncinya hati…” (HR. Al-Hakim). Dan juga terdapat pada Atsar-atsar para Tabi’in seperti, “Barang siapa yang tidak menderita berarti tidak memiliki agama…”(Hasan al-Bisri), “Sesungguhnya derita menjadi hiasan bagi malapetaka” (Abu Bakar as-Shidiq), dan “Ada 3 keistimewaan Allah yang tersimpan dalam dunia yaitu fakir, sakit, dan derita”(Ali al-Jurjaniy).

“Bagi yang hidup, rasa sakit memang tak terelakkan. Sedangkan penderitaan adalah sebuah pilihan. Bersabar, adalah kunci berdamai dengan kebahagiaan dan penderitaan untuk menuju kesadaran baru.”



Loading...
Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, jadikanlah semua pembacaku selalu sehat, berbahagia, serta berilah rezeki yang melimpah. Aamiin...."