miopi, rabun jauh, mata minusMiopia atau rabun jauh, telah diasumsikan sebagai ‘epidemi’ dalam 30 tahun terakhir, dengan beberapa negara melaporkan prevalensi sampai 80-90 persen – dan alasannya ini bisa saja menjadi kurangnya cahaya yang memadai di dalam kelas.

Richard Hobday, seorang pakar sinar matahari dan kesehatan, meneliti dalam sebuah studi baru membandingkan antara mata minus dengan penyakit tulang rakhitis, yang disebabkan oleh kekurangan vitamin D yang Anda dapatkan dari sinar matahari.

Hobday telah menghidupkan kembali teori berusia satu abad yang menunjukkan miopia juga bisa dikaitkan dengan kurangnya sinar matahari, atau setidaknya memadainya cahaya sekitarnya.

Miopia saat ini merupakan masalah kesehatan global, dengan negara-negara seperti Singapura, Taiwan, dan China melaporkan tingkat setinggi 80-90 persen diantara anak-anak usia sekolah menengah. Di barat, juga dikabarkan meningkat.

Penyebab dan cara untuk mencegah miopia masih belum jelas, meskipun sudah dilakukan penelitian ilmiah selama 150 tahun.

Hobday membandingkan sejarah miopia dengan rakhitis. Pada abad ke-17, rakhitis sering terjadi di kalangan anak-anak di Inggris dan telah mencapai tingkat epidemi.



Obat terbukti sulit didapatkan sampai tahun 1920-an, ketika para ilmuwan menemukan bahwa kurangnya sinar matahari, sehingga kekurangan vitamin D, adalah penyebab rakhitis.

Miopia, seperti rakhitis, adalah kondisi musiman yang muncul akan menjadi lebih buruk di musim dingin. Penelitian terbaru pada miopia telah menghidupkan kembali teori lama dari tahun 1890-an bahwa anak-anak sekolah yang menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah justru memiliki resiko miopia rendah.

Namun, tidak seperti rakhitis, tingkat cahaya sekitarnya rendah daripada tingkat Vitamin D sedikit tampaknya menjadi faktor penentu dalam miopia, Hobday menambahkan.

Pada akhir abad ke-19 diyakini bahwa kadar sinar matahari siang hari yang tinggi di sekolah dapat mencegah miopia. Departemen pendidikan membangun ruang kelas dengan jendela besar untuk mencoba menghentikan anak terkena rabun jauh.

Namun teori ini kehilangan traksi pada tahun 1960, dan miopia dianggap sebagai kondisi warisan atau diturunkan.

Hobday percaya ini adalah waktu yang tepat untuk meninjau kembali teori lama tersebut. Meskipun bukti bahwa sinar matahari siang di ruang kelas bisa mencegah miopia kurang terbukti, katanya : “Hal ini belum diteliti dengan baik karena kajian pertama kali dibuat pada tahun 1860-an. Namun, mengingat peningkatan pesat dalam miopia di kalangan anak-anak sekolah di seluruh dunia, maka studi ini harus ditinjau kembali..”, tutupnya.






About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."