Bagikan :

quarter life crisis, krisis seperempat abad, mengatasi krisis seperempat abad
Cara Mengatasi Kebimbangan Krisis Seperempat Usia HidupAda masa transisi dalam kehidupan setiap orang ketika meninggalkan masa remaja dan menapaki usia dewasa. Pada masa-masa ini seseorang dihadapkan pada realita agar belajar untuk meningkatkan kedewasaannya sebagai manusia, tak jarang terkadang membuat seseorang mempertanyakan tujuan dan arah hidup yang sedang dijalaninya. Ya, krisis ini seringkali disebut Quarter Life Crisis (krisis hidup seperempat abad), dimana kita akan menghadapi segala kemungkinan perubahan tidak terbatas, seperti mulai bekerja mendapatkan uang, memulai berkeluarga dan membuat keputusan-keputusan besar lain yang nantinya akan menentukan sisa hidup kita. Menurut penelitian, krisis perempat hidup mempengaruhi hampir 73% mereka yang berusia dua puluh sampai tiga puluh tahunan. Bramardianto.com memberikan sedikit penjelasan mengenai krisis ini dan juga akan membantu Anda untuk menangani situasi dengan cara yang positif. Baca terus…

“When you try your best, but you don’t succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse…”

Lirik diatas saya ambil dari lagu ‘Fix You’ yang dipopulerkan band Coldplay. Karena memang tepat sekali untuk menggambarkan artikel yang saya tulis ini. Teman-teman, berada di usia dua puluh dan tiga puluhan adalah waktu yang penting dalam hidup. Mulai bekerja mendapatkan uang sendiri, belajar mandiri, mengikat hubungan sampai tahap pernikahan, punya anak, memegang tanggung jawab, dsb. Itu semua membuat hidup terasa indah dan banyak terjadi pada masa ini. Namun, kehidupan tidak selalu tergambar indah seperti dalam angan-angan, dan kita juga harus menghadapi kemunduran. Teman-teman satu per satu mulai menghilang, hubungan yang rumit, belum menemukan pasangan yang cocok, menghadapi perceraian, kehancuran karir, trauma takut gagal, masalah finansial, dan banyak hal lain yang kadang-kadang membuat kita membenci hidup kita sendiri. Krisis perempat kehidupan memang menjadi misi berat yang harus dijalani seseorang di usia dua puluh sampai tiga puluhan. Meskipun, itu adalah fase yang mengharuskan kita terbangun dari zona nyaman, tapi cukup dapat menghambat langkah seseorang untuk membuat kemajuan dalam hidupnya.

Apa sebenarnya krisis seperempat usia hidup itu?
Dilihat dari arti harfiah, seperempat umur berarti kita telah sampai pada usia dua puluh lima tahun. Tapi, dalam konteks ini, istilah itu tidak diambil dalam arti harfiahnya. Seperti yang disebutkan dalam paragraf sebelumnya, krisis perempat kehidupan mempengaruhi kelompok usia dua puluhan atau tiga puluhan. Istilah ini dikembangkan bersama dengan krisis paruh baya (Midlife Crisis) yang dialami kelompok usia 37 sampai 50 tahun. Menurut teori yang diajukan oleh Erik H. Erikson, ada delapan krisis yang dihadapi seseorang dalam kehidupan mereka. Krisis perempat hidup adalah salah satu di antara delapan krisis ini. Seorang mahasiswa, sudah lulus dari perguruan tinggi, atau usia bekerja biasanya rentan terhadap dampak krisis ini.

Mari kita mencoba untuk memahami konsep ini secara rinci. Kita lahir, mulai sekolah, menyelesaikan studi ke jenjang lebih lanjut, setelah lulus kemudian mencari pekerjaan agar kita bisa mandiri di dunia yang sangat kompetitif ini. Nah, bagi kebanyakan orang, hidup berlangsung dengan cara ini. Seseorang yang tidak memiliki pekerjaan atau yang lemah secara finansial, sudah dianggap gagal oleh konsep yang salah dari dunia ini. Dalam kehidupan ini kita hanya berjuang mewujudkan mimpi dan untuk mencapai tujuan yang sudah kita tetapkan sendiri. Krisis ini dialami oleh orang-orang dalam kelompok usia 25-30 tahunan, karena mereka merasa sulit untuk mengatasi kerasnya dan tantangan dari dunia nyata. Atmosfer jaman sekarang tidak sama seperti sebelumnya, ada persaingan yang luar biasa di segala bidang dan berbagai tekanan telah membuat dunia menjadi tempat yang sulit untuk bertahan hidup.

Krisis ini bisa menjadi masalah karena terkadang diwarnai kegagalan dalam hubungan, perasaan kesepian, persaingan di tempat kerja, menyesal karena langkah karir yang diambil salah, keterlambatan dalam pernikahan, beban untuk menikah dll. Orang-orang yang mengalami krisis perempat hidup sering berpikir keras dan negatif tentang diri mereka sendiri dan kehidupan. Mereka mudah menyerah, cenderung berpikiran negatif dengan cepat, dan tak mau lagi melanjutkan hidup. Depresi, kecemasan, dan perasaan tidak bisa sukses adalah beberapa tanda-tanda umum. Ilmuwan telah mengidentifikasi lima tahap berbeda, yang mencirikan perubahan mentalitas orang yang terkena.

Lima tahapan krisis perempat hidup

1. Pada fase ini, seseorang merasa bingung tentang hidupnya, atau merasa kehilangan arah. Anda tidak memiliki kendali atas diri sendiri dan mengarahkan hidup sesuai pemikiran Anda. Orang merasa terjebak dalam pilihan hidup yang dibuatnya sendiri, seperti dia sudah tidak mampu mengatur hidupnya. Contohnya bisa seperti rasa trauma hubungan gagal, kebuntuan karir, atau masalah keluarga.



2. Di tahap kedua, seseorang mulai menyadari bahwa dia perlu melakukan sesuatu untuk mengendalikan kehidupannya sendiri. Setelah melewati perasaan terperangkap, ia menyadari bahwa bisa melakukan sesuatu untuk mengubah hidup.

3. Pada tahap ketiga, seseorang merasa perlu merubah hidupnya agar lebih baik dan menghilangkan perasaan apapun yang menyebabkan kesulitan baginya. Contohnya bisa seperti resign dari pekerjaan untuk memulai wirausaha sendiri.

4. Selama fase ini seseorang mulai berupaya keras untuk membangun kembali hidupnya, dan memperjangkan kehidupan yang sempurna.

5. Pada tahap kelima seseorang membuat komitmen untuk dirinya sendiri, mulai membangun komitmen baru yang selaras dengan minat dan cita-cita.

Bagaimana cara agar bertahan?
Orang-orang yang mampu bertahan melewati ‘pahitnya’ krisis perempat kehidupan, berarti telah dinyatakan berhasil mengarungi pengalaman positif menuju kedewasaan. Pasang surut di saat inilah yang menempa mereka menjadi orang kuat dan akhirnya menemukan karir tepat sesuai passionnya. Pengalaman-pengalaman yang didapat pasti akan membuat mental seseorang menjadi kuat, tak mudah terpengaruh arus. Jika Anda pembaca saya telah melewati fase perempat hidup dengan mulus, maka ada kemungkinan Anda tidak lagi ‘kaget/shock’ ketika harus menghadapi krisis di kemudian hari, terutama krisis pertengahan hidup (Midlife Crisis). Ada beberapa cara yang akan membantu Anda mengatasi stres dan depresi yang umum selama menjalani fase ini.

1. Berpikirlah, tapi dengan cara positif
Anda terlalu banyak berpikir, tapi sekarang saatnya bagi Anda untuk menganalisis kembali hidup Anda untuk mengambil sisi positif dari semua itu. Berpikir negatif hanya merusak pikiran. Pikirkan, ‘bagaimana Anda dapat membantu diri Anda sendiri?’, ‘Apa yang mengganggu Anda selama ini?’, ‘Apa yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki kesalahan dalam hidup Anda?’. Meskipun mungkin bukan menjadi solusi seperti yang Anda inginkan, tapi selalu ada solusi terbaik untuk mengatasi masalah. Jika Anda merasa bingung dalam memilih karir tepat yang mengganggu pikiran Anda, Anda bisa mengambil nasihat dari seorang sahabat atau orang yang Anda percaya bisa memberi nasihat secara netral. Jika Anda merasa dunia ini kejam, tetap tegaskan bahwa Anda cukup kuat untuk menangani dan menghadapi dunia. Anda bisa menempuh jalan spiritual.

2. Ambil saja hikmahnya
Kita sering melakukan beberapa hal secara terburu-buru, yang akhirnya kita sesali sendiri di kemudian hari. Sebuah penyesalan karena kesalahan dalam mengambil keputusan bisa mengganggu makan dan tidur Anda. Tapi apakah penyesalan itu bisa mengembalikan semuanya? Tidak, satu-satunya sisi positif dari penyesalan adalah, bisa membantu Anda memetik sebuah hikmah dari kehidupan Anda. Jadi jangan pernah menyesal, hidup Anda terlalu berharga jika dihabiskan untuk menyesal.

3. Menghabiskan waktu dengan teman dan keluarga
‘Pikiran kosong adalah taman bermain setan’. Semakin banyak waktu yang Anda habiskan sendirian, maka semakin besar kemungkinan Anda untuk berpikir tentang hal negatif dalam hidup Anda. Jadi habiskan waktu dengan keluarga dan teman dekat jika Anda sedang mengalami krisis. Ceritakan kekhawatiran Anda dengan mereka, supaya Anda merasa sedikit lega.

4. Bekerja untuk menjemput masa depan cerah
Balas dendam terbaik adalah melampiaskannya dengan bekerja mewujudkan impian. Jika Anda saat ini tidak puas dengan pekerjaan, ingin resign tapi tak punya pandangan lain, apa yang Anda lakukan? Umumnya Anda merasa putus asa dan merasa seperti pecundang. Ini adalah sikap keliru yang justru memperburuk kehidupan Anda sendiri. Usahakan tetap bahagia dan bersyukur dengan apa yang sudah Anda punya. Mencari solusi untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan adalah cara tepat untuk menangani masalah. Jangan menyimpan masalah, membohongi diri sendiri, apalagi terus-terusan merenungi nasib yang tak kunjung berubah. Teruslah bekerja keras dengan keyakinan untuk memperbaiki hidup Anda.

Mudah-mudahan, artikel ini membantu Anda memahami konsep krisis perempat hidup. Berurusan dengan krisis perempat hidup sebenarnya tidak terlalu sulit, belajar untuk menjadi positif dan nikmati saja hidup Anda tanpa terpengaruh arus. Selalu diingat, kehidupan tidak memiliki tombol mundur dan tombol maju, semuanya tergantung pada bagaimana Anda bereaksi terhadap ‘saat ini’, dan saat inilah yang menuntut Anda untuk menjadi orang positif dan bersemangat agar Anda bisa melewati setiap badai perubahan. Percayalah, bagaimanapun juga ini adalah cara Tuhan memberikan pembelajaran untuk jiwa Anda. Tuhan selalu memiliki rencana indah dan terbaik diluar logika kita. “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik”, tetap semangat dan semoga berhasil.

“Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you…”



Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, jadikanlah semua pembacaku selalu sehat, berbahagia, serta berilah rezeki yang melimpah. Aamiin...."