Infeksi Amoeba pada Bayi dan Anak-AnakKurang menjaga kebersihan bisa menjadi awal infeksi amoeba. Sebab, mayoritas penyakit bersumber dari kurangnya menjaga kebersihan. Lantas, bagaimana bila infeksi itu terjadi?

amoeba, infeksi amoba, gejala infeksi amoeba, penyebab infeksi amoeba, menangani infeksi amoeba, mengatasi infeksi amoeba

Amoeba adalah parasit yang bisa ada dimana saja. Parasit itu bisa mengontaminasi air, makanan, tangan, bahkan benda-benda yang ada disekitar kita. Amoeba memang mudah menginfeksi bayi dan anak-anak, karena daya tahan tubuhnya yang masih rendah. Tapi, bukan berarti orang dewasa tidak bisa terinfeksi amoeba. Amoeba bisa menular dari orang yang satu ke orang yang lainnya lewat mulut. Karena itu, segala macam makanan, minuman, atau benda lain yang masuk ke dalam mulut sebaiknya benar-benar dijaga kebersihannya, agar amoeba tidak ikut masuk ke dalam tubuh. Apalagi pada bayi dan anak-anak yang pertahanan tubuhnya belum maksimal. Karena itu, orang-orang yang berada didekat bayi dan anak-anak, seperti orang tua, pengasuh, kakek-nenek, yang kurang menjaga kebersihan, bisa berpotensi menularkan amoeba ini kepada si anak. Sebagai contoh, pembantu yang kurang memperhatikan kebersihan dirinya dan menyiapkan makanan untuk bayi, tentu ia berpotensi mengontaminasi makanan untuk bayi. Begitu juga dengan peralatan bayi, mulai dot, empeng, dan mainan yang masuk ke dalam mulut bayi berpotensi memindahkan amoeba ke tubuh bayi. Tetapi tidak semuanya bayi dan anak-anak akan menunjukkan gejala infeksi amoeba, karena daya tahan tubuh masing-masing orang berbeda-beda.

Gejala Infeksi Amoeba

Setelah masuk ke dalam tubuh, amoeba baru akan menimbulkan gejala (masa inkubasi) setidaknya 2-4 minggu. Tapi, bisa juga sampai berbulan-bulan. Pada sembilan dari sepuluh orang atau sekitar 90 persen, infeksi amoeba tidak akan menimbulkan gejala, atau bersifat asymtommatic. Kecuali, pada bayi dan anak-anak yang ketahanan tubuhnya belum sempurna, infeksi amoeba akan menimbulkan berbagai gejala. Tapi, itu juga bergantung daya tahan tubuhnya. Beberapa gejala yang muncul antara lain :

Gangguan Pencernaan

Infeksi amoeba umumnya hanya menimbulkan gejala ringan, terutama pada organ pencernaan, seperti diare, lemas, perut mulas, dan demam tinggi. Mekanisme perlawanan tubuh terhadap infeksi memang demam. Sedangkan diare terjadi karena amoeba paling sering menyerang organ pencernaan. Anak menjadi lemas karena kekurangan cairan akibat diare hebat yang dialaminya. Sedang kejang bisa terjadi karena demam yang terlalu tinggi.

Berak Berlendir disertai Darah

Bila gejala ringan tidak segera diatasi, tentu infeksi amoeba akan menimbulkan gejala yang semakin berat, seperti masuk ke pembuluh darah dan organ-organ tubuh lainnya. Amoeba bisa merusak dinding usus. Adanya luka di usus akan menyebabkan penderita mengalami disentri, yaitu BAB yang disertai lendir dan darah. Rusaknya dinding usus bisa membuat lubang di usus. Dari luar, lubang itu memang akan terlihat kecil. Padahal, bila dilihat dari dalam, lubang di usus itu ternyata besar. Kondisi itu tentu akan menyebabkan fungsi saluran pencernaanuntuk menyerap sari-sari makanan jadi terhambat, termasuk lemak. Itulah sebabnya, bayi yang menderita disentri hebat badannya akan menurun dan susah bertambah. Selain usus, organ lain yang juga sering terinfeksi adalah liver. Sebab, organ tersebut adalah tempat berkumpulnya darah. Jika tidak segera diatasi, amoeba bisa juga beresiko masuk ke organ vital lainnya, seperti paru, jantung, saluran kencing, hingga otak. Jika sampai ke organ-organ vital tersebut, infeksi amoeba bisa menyebabkan semacam bisul di organ tersebut.

Cara Mengatasi Infeksi Amoeba

Agar tidak semakin bertambah parah, segera bawa si kecil ke dokter bila muncul gejala-gejala terinfeksi amoeba. Umumnya, dokter akan melakukan cek berak dan darah untuk mengetahui penyakitnya. Jika positif mengandung amoeba, dokter akan meresepkan obta anti-amoeba sesuai dengan dosis penderita. Selain itu beberapa langkah untuk mengatasinya adalah :



Hentikan Susu Berlaktosa

Ketika mengalami diare hebat, hentikan pemberian susu formula yang mengandung laktosa. Sebab, saat itu usus sedang luka, sehingga kandungan laktosa dalam susu akan sulit diserap, sehingga makin memicu terjadinya diare. Itulah sebabnya, ketika bayi mengalami diare, dokter menyarankan untuk memberikan susu non-laktosa atau susu berlabel total hydrolized (susu terhidrolisasi total) agar tidak memperparah kondisi.

Jaga Kebersihan

Cara paling penting untuk mengobati sekaligus mencegah terjadinya infeksi amoeba adalah dengan cara selalu menjaga kebersihan dengan baik. Diantaranya, dengan rajin mencuci tangan. Tentunya bukan sekedar mencuci tangan, tetapi cuci tangan menggunakan sabun kurang lebih 15 detik. agar kuman-kuman di tangan hilang. Terutama bagi mereka yang dekat dengan bayi dan anak-anak, seperti orang tua, pengasuh, dan pembantu rumah tangga. Membersihkan tangan juga bisa dilakukan dengan menggunakan alkohol atau hand sanitizer yang berbahan alkohol. Selain itu, selalu gunakan air matang untuk menghindari masuknya amoeba ke dalam tubuh. Sebab, amoeba bisa berada di air, bak air, air kamar mandi, maupun kolam renang sehingga mudah masuk ke dalam tubuh jika tertelan. Yang juga harus diperhatikan adalah selalu menyajikan makanan matang sempurna. Selain mencegah disentri, juga mencegah masuknya toksoplasma.




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."