Bagikan :

nasib buruk, nasib baik

Mengapa Hal Buruk Menimpa Orang BaikPernahkah Anda bertanya dalam diri, “mengapa nasib buruk selalu menimpa orang baik?” atau (bahkan lebih membingungkan) “mengapa keberuntungan justru berpihak pada orang jahat?”

Seringkali kita hanya melempar tanggung jawab kita dan mengatakan “Tuhan tidak adil!”. Nah, ini adalah pernyataan yang salah karena Tuhan memang adil. Sadarkah bahwa kita semua membuat realitas kehidupan kita menggunakan aturan yang sama seperti orang lain. Hanya saja, aturan alam semesta tidak ada hubungannya dengan menjadi baik atau buruk!

Untuk memahami aturan-aturan ini, hal pertama yang harus diingat adalah, banyak dari kita percaya bahwa perbuatan baik mendapatkan ‘pahala’ dan perbuatan buruk akan mendapatkan ‘dosa’. Kita diprogram untuk percaya bahwa jika kita bertindak “baik”, hal-hal baik pasti akan terjadi dan jika kita bertindak “buruk”, hal-hal buruk yang akan terjadi.

Sekarang, jenis pemrograman inilah yang digunakan untuk memanipulasi tindakan kita sehingga kita terjebak berperilaku dengan cara orang tua kita, guru, dan orang-orang terdekat. Namun, meskipun mereka percaya bahwa perbuatan ‘baik dan buruk’ dapat didefinisikan dan akan menerima konsekuensinya, tapi alam semesta tidak bekerja seperti itu. Kita tidak akan pernah belajar arti sebuah keikhlasan.

Coba carilah bukti di sekitar Anda. Amatilah teman, kerabat, atau rekan kerja Anda, terutama orang-orang yang memiliki nasib baik atau buruk. Anda akan menemukan bahwa itu bukan masalah “baik” atau “buruk” nya yang menentukan realitas mereka, tetapi dari niat kesadaran mereka sendiri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Yunus ayat 44 :

إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah, yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”



Jelas sudah, bahwa bukan Allah yang menghendaki azab bagi manusia. Allah hanyalah menjalankan roda hukum alam semesta yang telah ditetapkanNya. Sedangkan manusia itu sendiri adalah bagian dari hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan. Karena hukum alam berjalan di bawah kehendak Tuhan, maka seakan-akan pahala dan balasan itu atas KehendakNya.

Siapa yang Menentukan Nasib Baik dan Buruk?
Apabila kita memahami bahwa Allah tidak merugikan manusia sedikit pun, lalu siapa yang membuat nasib baik atau nasib buruk? Lalu, mengapa ada orang yang hidupnya mulus dan ada yang tidak luput dari bencana? Apa ada dalam garis tangan seseorang?



Di dalam hidup ini akan ada siklus dalam emosi Anda, yang merupakan bagian dari perjalanan menjadi manusia yang tercerahkan. Selalu ada waktu dimana Anda merasa apatis dan depresi. Tidak hanya masalah yang Anda hadapi, tapi gravitasi astronomi tertentu bisa juga menjadi sumber keputusasaan tersebut. Semua ini harus dihadapi, dan dapat Anda atasi sendiri.

Dalam pengalaman hidup kita, berdamai dengan sifat dualitas (salah/benar, kaya/miskin, dsb) itu sangatlah sulit. Ini adalah kebenaran yang sering disalahpahami orang. Penelitian dan penguasaan kehidupan membutuhkan upaya keras. Anda harus membaca dan memahami setiap halaman ‘buku kehidupan’ setiap waktu dalam hidup Anda. Jalan terbaik adalah menerima tantangan penyucian diri dengan menjadikan contoh hidup dari cahaya pengalaman sendiri daripada memprotes ketidakadilan yang masih ada di dalam dunia 3 dimensi ini. Itu adalah sebuah pilihan bijaksana untuk melindungi diri Anda.

Ujian terbesar dari kebangkitan spiritual terjadi pada saat-saat Anda berada di luar ‘zona nyaman’. Anda seperti merasa bingung, semua rencana tidak terpenuhi, penolakan, atau bahkan dalam keadaan putus asa yang paling menyakitkan. Karena pada saat-saat seperti itulah, Anda dipaksa untuk meledak keluar dari belenggu yang membatasi dan terus mencari cara lebih baik untuk perkembangan spiritual Anda. Jadi, dapat disimpulkan mengapa ‘hal buruk’ menimpa orang-orang yang baik?Karena hal yang kita anggap buruk inilah sebuah alat penyuci jiwa kita sebenarnya agar lebih sadar dan memahami hakikat hidup dalam hukum penciptaan (Law of Creation).



Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."