Bagikan :

penciptaan alam semesta, penciptaan alam semesta menurut al-quran dan sains, penciptaan alam semesta menurut ilmu pengetahuan
Penciptaan Alam Semesta dari Berbagai Literatur AgamaPersepsi tentang alam semesta dalam setiap agama tentu berbeda-beda dan memiliki cerita yang unik, begitu juga cerita tentang penciptaannya. Mari kita lihat pada kisah penciptaan dalam tradisi agama di dunia.

Penciptaan alam semesta telah menjadi salah satu pertanyaan mendasar yang terus dicari manusia sejak jaman dahulu hingga sekarang. Berbagai penjelasan melalui kajian spiritual, teologis, filosofis, dan ilmiah telah dikemukakan sampai hari ini dalam upaya untuk mengungkap misteri penciptaan dunia dan seisinya. Agama, yang membentuk dasar dari perilaku dan keyakinan manusia, adalah sistem kepercayaan yang pertama kalinya mencoba untuk memecahkan kode teka-teki misterius ini melalui berbagai cerita dan mitos. Kisah penciptaan, juga dikenal sebagai ‘mitos penciptaan’, adalah narasi yang berbicara secara simbolis tentang penciptaan dunia dan kehidupan. Mitos ini, cenderung berkembang secara turun-temurun melalui berbagai tradisi, yang pada dasarnya memiliki akar dalam kebudayaan. Cerita ini diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya, dan diinterpretasikan dalam banyak cara yang berbeda dalam prosesnya. Pada akhirnya, katakanlah satu abad, kita mungkin memiliki beberapa versi cerita yang berbeda dari mitos penciptaan. Namun demikian, tujuannya tetap sama, mencoba untuk menjelaskan asal-muasal dunia.

Mitos penciptaan dalam Berbagai Agama



Seperti disebutkan di atas, hampir setiap agama dunia memiliki cerita mitos penciptaan yang unik. Di antara yang paling menarik adalah mitos penciptaan dalam agama Kristen, Islam, Hindu, dan Taoisme.

Taoisme
Seni dan budaya Cina dan Konghucu berbicara tentang yin dan yang atau gelap dan terang. Mereka percaya bahwa Yin dan Yang menjadi kekuatan kreatif yang menopang kehidupan. Yin dan yang adalah kekuatan alam di balik bentuk kekuatan lain bahkan para dewa sekalipun. Ada suatu kekuatan terbesar yang jauh lebih tinggi dibandingkan para Dewa. Menurut teori ini, ada waktu kacau, kabut dan kekosongan sebelum alam semesta diciptakan. Tiba-tiba, ada cahaya yang berwarna-warni dari berbagai sudut kekosongan. Kabut mengguncang dan cahaya semuanya berdiri, sementara benda berat semua tenggelam dan menjadi padat. Langit dan bumi menghasilkan dua kekuatan yang kuat – yin dan yang. Sementara panas, api, dan laki-laki tercipta, begitu juga yin yang lembab, dingin dan perempuan tercipta begitu saja. Terjadilah keseimbangan dan harmoni. keyakinan adalah Yang menciptakan matahari dan bulan itu datang dari yin. Bersama-sama mereka menciptakan empat musim dan lima unsur dan segala jenis makhluk hidup. Pada awalnya, bumi hanyalah sebuah bola tanpa fitur. Yin dan yang diciptakan P’an Ku, ia ditugaskan untuk menjaga bumi. Dia melipat gunung-gunung dan bukit-bukit dan dari lembah-lembah sungai nnengalir. Suatu hari P’an Ku roboh dan meninggal. Ketika ia jatuh ke tanah, tubuhnya menjadi lima gunung suci. Taoisme percaya bahwa rambutnya menjadi tanaman dan darahnya membentuk sungai. Pada awal orang tinggal di gua-gua, tapi para penghuni surge dan para dewa mengajarkan manusia untuk membuat alat dan rumah-rumah, membangun perahu, ikan, membajak dan berkebun. Maka terjadilah kehidupan yang terus berkembang sampai sekarang.

Kristen
MILIARAN orang pernah membaca atau mendengar kisah Alkitab tentang awal mula alam semesta. Kisah yang ditulis 3.500 tahun lalu itu dimulai dengan kalimat yang terkenal, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Namun, banyak orang tidak tahu bahwa para pemimpin gereja, juga para penganut kreasionisme dan fundamentalisme, telah mengubah kisah Alkitab tentang penciptaan ini menjadi berbagai cerita yang tidak sesuai dengan kisah yang sebenarnya. Apa yang mereka sampaikan juga bertentangan dengan fakta ilmiah. Akibatnya, banyak orang akhirnya menganggap kisah penciptaan dalam Alkitab sebagai dongeng belaka.

Banyak orang tidak mengetahui kisah Alkitab yang sebenarnya tentang penciptaan. Ini sungguh disayangkan, karena Alkitab justru memberikan penjelasan yang sangat logis dan bisa dipercaya mengenai awal mula alam semesta. Selain itu, penjelasannya juga selaras dengan temuan ilmiah. Ya, kisah Alkitab yang sebenarnya tentang penciptaan mungkin benar-benar di luar dugaan Anda!

Inti dari kisah Alkitab tentang penciptaan adalah : Ada Pribadi yang Mahatinggi, Allah Yang Mahakuasa, yang menciptakan segala sesuatu. Siapakah Dia, dan seperti apakah Dia? Alkitab mengatakan bahwa Ia berbeda dari allah atau dewa-dewi yang dipercayai dalam kebanyakan kebudayaan atau agama utama. Ia adalah Pencipta segala sesuatu, tapi pada umumnya orang tidak tahu banyak tentang-Nya.

  • Allah adalah pribadi yang nyata. Ia bukan kekuatan abstrak yang tidak punya kepribadian, yang mengembara di seluruh alam semesta. Ia punya perasaan, pikiran, dan tujuan.
  • Kuasa dan hikmat Allah tak terbatas. Ini terlihat jelas pada rancangan yang luar biasa dari ciptaan-Nya, terutama makhluk hidup.
  • Allah menciptakan semua unsur fisik. Jadi, Ia tidak mungkin terbuat dari unsur-unsur yang Ia ciptakan itu. Sebaliknya, Allah adalah pribadi roh.
  • Allah tidak dibatasi oleh waktu. Dari dulu Dia sudah ada dan akan selalu ada. Jadi, tidak ada yang menciptakan Dia.
  • Allah punya nama, yang disebutkan ribuan kali dalam Alkitab. Nama-Nya adalah Yehuwa.
  • Allah Yehuwa menyayangi dan memperhatikan manusia.

Alkitab menyatakan bahwa Allah menciptakan ”langit dan bumi”. Namun, pernyataan ini tidak menyebutkan berapa lama atau bagaimana Allah menciptakan alam semesta. Lalu, bagaimana dengan kepercayaan kreasionisme bahwa Allah menciptakan alam semesta hanya dalam enam kali 24 jam? Gagasan ini, yang ditolak oleh para ilmuwan, muncul karena pemahaman yang salah tentang kisah penciptaan dalam Alkitab. Perhatikan apa yang sebenarnya Alkitab katakan.

  • Alkitab tidak mendukung ajaran fundamentalisme dan kreasionisme bahwa satu hari penciptaan lamanya 24 jam harfiah.
  • Kata ”hari” dalam Alkitab sering memaksudkan berbagai periode waktu. Dan, ada beberapa periode waktu yang tidak diketahui berapa lamanya. Salah satu contohnya adalah kisah penciptaan di buku Kejadian.
  • Dalam Alkitab, setiap hari penciptaan mungkin lamanya ribuan tahun.
  • Allah sudah menciptakan alam semesta, termasuk planet Bumi yang masih kosong, sebelum Ia memulai enam hari penciptaan.
  • Enam hari penciptaan tampaknya adalah jangka waktu yang panjang sewaktu Allah Yehuwa mempersiapkan bumi untuk dihuni manusia.

Kisah penciptaan dalam Alkitab tidak bertentangan dengan fakta ilmiah mengenai usia alam semesta. Alkitab sudah memberi tahu, ”Sebab sifat-sifat [Allah] yang tidak kelihatan, yaitu kuasanya yang kekal dan Keilahiannya, jelas terlihat sejak penciptaan dunia, karena sifat-sifat tersebut dipahami melalui perkara-perkara yang diciptakan.” (Roma 1:20).

Garis waktu penciptaan

  • AWAL MULA. Bumi belum berbentuk dan gelap. Langit dan bumi diciptakan.—Kejadian 1:1.
  • KEGELAPAN. Bumi belum berbentuk, tandus, dan gelap.—Kejadian 1:2.
  • HARI PERTAMA. Sedikit cahaya mulai menembus atmosfer bumi. Sumber cahaya belum bisa terlihat dari permukaan bumi. Namun, perbedaan antara siang dan malam mulai kelihatan.—Kejadian 1:3-5.
  • HARI KEDUA. Bumi tertutup air dan uap yang padat. Dua elemen ini dipisahkan sehingga ada ruang antara air di permukaan bumi dan lapisan uap di atasnya. Alkitab menggambarkan ruang itu sebagai ”angkasa di tengah-tengah air”, dan menyebutnya ”Langit”.—Kejadian 1:6-8.
  • HARI KETIGA. Air di permukaan bumi surut dan tanah kering muncul. Atmosfer menjadi lebih jernih sehingga sinar matahari bisa mencapai permukaan tanah. Beberapa tumbuhan muncul, dan spesies-spesies baru mulai bertunas selama hari ketiga dan setelahnya.—Kejadian 1:9-13.
  • HARI KEEMPAT. Matahari dan bulan sekarang bisa terlihat dari permukaan bumi.—Kejadian 1:14-19.
  • HARI KELIMA. Allah menciptakan banyak makhluk laut dan makhluk yang terbang di udara dengan kemampuan untuk berkembang biak sesuai jenisnya.—Kejadian 1: 20-23.
  • HARI KEENAM. Binatang darat diciptakan, besar maupun kecil. Puncak dari hari keenam adalah diciptakannya mahakarya Allah: pasangan manusia pertama.—Kejadian 1:24-31.

Hindu
Matsya Purana 2.25-30, penciptaan diceritakan terjadi setelah Mahapralaya, leburnya alam semesta, kegelapan di mana-mana. Semuanya dalam keadaan tidur. Tidak materi apapun, baik yang bergerak maupun tak bergerak. Lalu Svayambhu, self being, menjelma, yang merupakan bentuk diluar indra. Ia menciptakan air/cairan pertama kali, dan menciptakan bibit penciptaan didalamnya. Bibit itu tumbuh menjadi telur emas. Lalu Svayambhu memasuki telur itu, dan disebut Visnu karena memasukinya.

“Semua adalah Purusa, apapun yang telah terjadi dan apapun yang akan terjadi. Ia adalah tuan dari kekekalan, yang tumbuh dari makanan. Ia dinyatakan mempunyai ribuan kepala, ribuan mata dan ribuan kaki. Ia membungkus Bhumi dari segala penjuru, dan ada di luar berbentuk sepuluh jari. Semua hanyalah Purusa, “- Rgveda 10.90.1-2, Chandogya Upanisad 3.14.1 menyatakan bahwa semuanya adalah Brahman. Tidak ada neraka abadi karena bahkan neraka pun tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan. Bahkan, tidak ada surga atau neraka pada akhir jaman. Semesta hanyalah manifestasi dari Yang Kuasa, dan akhir dari siklus semesta yang sekarang disebut “Mahapralaya” saat semua kembali pada Purusa. Di akhir jaman, tidak ada surga, tidak ada neraka dan tidak ada jiwa. Dalam Rgveda, kata “Purusa” bisa berarti manusia/laki-laki (man). Secara etimologis, Purusa berarti orang yang menghuni kota (Pura). “Pura” sendiri berarti tempat yang dihuni oleh penjaga/ penghuni. Purusa disebut juga Rahim Emas, Purusa disebut juga Brahmanda, Purusa disebut juga Martanda. Purusa disebut juga Prajapati [Satapatha Brahmana 7.4.1.15, Jaiminya Brahmana 2.47].,



Rgveda 10.129: 1. Tiada yang termanifestasikan atau tak termanifestasikan. Sehingga tiada debu dan tiada langit di luarnya. Apa yang melingkupinya, di mana naungannya? Apa suara yang dalam dan tak-terjelaskan itu? 2. Tiada kematian. Tiada perbedaan antara siang dan malam. Hanya Ia atas kehendakNya sendiri tanpa udara. Tiada apapun selain itu. 3. Sebelumnya hanya ada kegelapan, semuanya ditutupi kegelapan. Semuanya hanya cairan yang tak terpisahkan (Salila). Apapun itu, ditutupi dengan kekosongan. Yang satu lahir dari panas. 4. Sebelum itu (sebelum penciptaan) keinginan (untuk mencipta) bangkit dari diriNya, lalu dari pikiranNya bibit pertama lahir. Manusia yang bijak dalam berpikir menemukan yang termanifestasikan terikat dengan yang tak-termanifestasikan. 5. Cahayanya menyebar menyamping, ke atas dan bawah. Ia menjadi pencipta. Ia menjadi besar atas kehendaknya sendiri ke bawah dan atas. 6. Siapa yang tahu, siapa yang akan memberitahu dari mana dan mengapa penciptaan ini lahir, karena dewa-dewa lahir setelah penciptaan ini. Sehingga, siapa yang tahu dari siapa semesta ini dilahirkan.

  • “Pada mulanya sama sekali tiada apapun. Tiada surga, tiada bumi dan atmosfer.” -Taittiriya Brahmana 2.2.9.1
  • “Seluruh semesta termasuk bulan, matahari, galaksi dan planet-planet ada didalam telur. Telur ini dikelilingi oleh sepuluh kualitas dari luar.” -Vayu Purana 4.72-73
  • “Di akhir dari ribuan tahun, Telur itu dibagi dua oleh Vayu.” -Vayu Purana 24.73
  • “Dari telur emas, alam material diciptakan.” – Manusmrti 1.13

Srimad Bhagavatam skanda 5 bab 24 mengarakan munculnya alam semesta dari pori-pori Tuhan dalam wujud Karanodakasayi Visnu, dari sini muncul Garbhadakasayi Visnu yang berikutnya dari pusar beliau muncul bentuk yang menyerupai bunga padma. Di atas bunga padma inilah Tuhan menciptakan mahluk hidup yang pertama, yaitu Dewa Brahma. Dewa Brahma diberi wewenang sebagai arsitek yang menciptakan susunan galaksi besarta isinya dalam satu alam semesta yang dikuasainya. Alam semesta berjumlah jutaan dan tidak terhitung banyaknya yang muncul dari pori-pori Karanodakasayi Visnu dan setiap alam semesta memiliki dewa Brahma yang berbeda-beda. Ada Dewa Brahma yang berkepada 4 seperti yang dijelaskan menguasai alam semesta tempat bumi ini berada. Dan ada juga Brahma yang lain yang memiliki atribut yang berbeda, berkepala 8, 16, 32 dan sebagainya. Yang jelas dapat disimpulkan bahwa Brahma adalah merupakan kedudukan dalam sebuah alam semesta dan di seluruh jagad material terdapat sangat banyak dewa Brahma, bukan saja dewa Brahma bermuka empat yang telah biasa dibicarakan oleh umat Hindu saat ini. Hal pertama yang diciptakan Brahma dalah susunan benda antariksa, planet, bintang dan sejenisnya mulai dari tingkatan paling halus sampai dengan yang paling kasar. Dalam penciptaan ini dijelaskan bahwa Tuhan menjelma sebagai Ksirodakasayi Visnu dan masuk kedalam setiap atom. Inilah kemahahebatan Tuhan sebagai maha ada dan menguasai setiap unsur dalam ciptaannya. Setalah itu Dewa Brahma menciptakan berbagai jenis kehidupan mulai dari para dewa, elien, mahluk halus, binatang, tumbuhan sampai pada virus yang berjumlah 8.400.000 jenis kehidupan. Srimad Bhagavatam dalam skanda yang sama menjelaskan pada akhir peleburan suatu alam semesta, alam semesta akan kembali masuk kedalam pori-pori Tuhan.

Islam
Menurut pandangan Al Quran, penciptaan alam semesta dapat dilihat pada QS. Al Anbiya ayat 30.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Menurut ayat di atas dikatakan bahwa langit dan bumi dahulunya merupakan satu kesatuan yang padu.

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “ Datanglah kamu keduanya menuruti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”. “Maka Dia menjadikannya 7 langit dalam 2 masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.” (QS. Fussilat : 11-12)

Surat ini menerangkan bahwa yang pertama kali Allah ciptakan sebelum ada bintang-bintang dan galaksi, adalah bumi, kemudian Allah SWT siapkan makanan di bumi bagi subject utama penciptaan alam semesta , yaitu manusia. Baru setelah itu Allah ciptakan langit dan bintang-bintang dalam enam masa. Seperti diterangkan dalam QS. Al A’raf ayat 54, alam semesta ini diciptakan selama 6 masa.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”

Bumi sebelumnya adalah planet yang mati dan Allah menghidupkannya dengan menurunkan air dari langit.

“Dan Allah menurunkan dari langit air dan dengan air itu dihidupkannya bumi sesudah matinya.” (QS. An Nahl : 65).

Pertanyaannya adalah darimana air ini berasal ? Padahal waktu itu belum ada awan yang bisa menghasilkan hujan, belum ada langit yang bisa menahan uap air. Maka satu-satunya kemungkinan asal air adalah dari Arasy-nya Allah.

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa menghilangkannya.”( QS. Al- Mu’minun : 18 )

Perhatikan kalimat “lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi”, ini menerangkan bahwa air bukanlah pemukim asli bumi tetapi pendatang (alien).

  • “…Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, Maka mengapakah mereka tiada juga beriman.” ( QS. Al-Anbiya : 30 ).
  • “…Maka Kami tumbuhkan dengan air itu berjenis-jenis tumbuhan yang bermacam-macam.” ( QS. Tha Ha : 53)
  • “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air…” (QS An Nur : 45).

Ketiga ayat tersebut makin menjelaskan kepada kita bahwa setelah air diturunkan ke bumi, maka sebelum Allah ciptakan hewan, tentunya yang terlebih dahulu Allah cipakan adalah tumbuh-tumbuhan sebagai cadangan makanan hewan. Kemudian hewan-hewan ada juga yang menjadi cadangan makanan untuk hewan-hewan predator. Semua jenis hewan, baik burung maupun hewan darat, ternyata menurut ilmu pengetahuan memang asal-usulnya dari hewan air.

Misteri berikutnya adalah dikatakan dalam Al Qur’an bahwa langit dan bumi dulunya adalah suatu yang padu. Jadi bukan bumi dan bintang-bintang yang dulunya sesuatu yang padu.

“….bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya”. ( QS. Al-Anbiya : 30 ).

Selanjutnya Allah SWT menciptakan langit dari asap (lihat kembali QS. Al Fussilat ayat 11). Bumi, sebelum Allah SWT hidupkan dengan menurunkan air dari langit, pada mulanya adalah sebuah bola api yang sangat panas. Ilmu pengetahuanpun mengakui hal tersebut. Tetapi tanpa perlu pembuktian, kita tahu bahwa perut bumi masih mengandung lumpur dan lahar yang sangat panas sampai saat ini. Sebuah benda yang panas, seperti sebatang besi yang membara misalnya, apabila disiram air akan menyebabkan munculnya asap dan uap air. Demikian juga dengan bola panas bumi pada waktu air diturunkan maka dia mengeluarkan asap dan uap air. Apa bedanya asap dengan uap air? Asap bersifat adesif (mengikat) sedangkan uap bersifat kohesif (tidak mengikat). Asap dari bumi inilah yang kemudian Allah SWT ciptakan menjadi langit yang berjumlah tujuh lapis. Kemudian dalam tempurung langit yang pertama Allah ciptakan bintang-bintang. Allah SWT Kuasa menciptakan segala sesuatunya dari yang tiada menjadi ada.

Tujuan Penciptaan Alam

  • Pada hakikatnya segala sesuatu yang tercipta, benda hidup maupun mati, nyata ataupun tidak, semuanya adalah milik Allah semata yang pada akhirnya semuanya akan kembali kepada-Nya. Baik secara suka atau terpaksa, segala alam yang ada itu menjadi tunduk dan patuh pada hukum dan ketetapan Allah.
  • Hanya karena sifat kasih dan sayang dari Allah maka manusia yangi ciptakan adalah diberi tugas sebagai khalifah di bumi ini bertugas untuk megelola, membudayakan, memanfaatkan dan melestarikan alam. Tugas tersebut diberikan kepada manusia karena Allah menciptakn manusia sebagai makhluk yang terbaik, seperti yang disebutkan dalam surat At Tiin ayat 4. Manusia di dalam kehidupannya di dunia dibekali oleh Allah dengan potensi dasar. Potensi dasar itu dapat nampak dan dilihat dalam jiwa, raga, tubuh, dan ruh.
  • Dari potensi dasar manusia yang berupa akal yang bisa melahirkan daya berfikir dan daya nalar, akhirnya manusia dapat menundukkan, menguasai, dan memanfaatkan alam. Dengan akal itu pula manusia dapat mengamati, meneliti, menganalisis gejala-gejala alam yang timbul, dan menguasai rahasia-rahasianya.
  • Sehingga pada puncak penelitian dan penemuannya itu, akan wujud dan keagungan Allah sebagai penciptanya. Dengan demikian, tujuan alam diciptakan adalah bukan untuk dirusak, dicemari, dan dihancurkan. Akan tetapi adalah untuk difungsikan semaksimal mungkin dalam kehidupan. Tujuan alam diciptakan juga bukan untuk disembah, dikultuskan, dan dimintai pertolongan. Akan tetapi adalah untuk dikelola, dibudidayakan, dan dimanfaatkan dalam kehidupan. Pada akhirnya alam diciptakan hanya sebagai fasilitas semata bagi manusia untuk mengenal dan lebih mendekatkan diri pada Allah.

Sebagai orang yang beragama, saya tidak serta merta menisbikan ilmu pengetahuan. Begitu juga sebaliknya, sebagai penikmat sains dan pendaki spiritual bukan berarti saya akan meniadakan agama. Bagi saya pribadi, agama dan ilmu pengetahuan adalah dua kesatuan yang berbeda namun tidak terpisahkan. Selayaknya sebuah koin, ia memiliki dua sisi yang bertolak belakang tapi kita tak bisa memisahkannya. Dua kesatuan yang bertolak-belakang itu akan tetap menyatu dan saling membutuhkan, seberapa besarpun daya tolak di antara keduanya. Dan saya mencintai serta menghormati keduanya pada tataran yang berbeda. Boleh saja cerita-cerita penciptaan alam semesta memiliki perbedaan versi menurut keyakinan masing-masing, tetapi pada hakikatnya semuanya tetap mengetengahkan tentang Kekuatan Maha Agung yang bertanggung jawab untuk penciptaan dunia dan seisinya. Semoga semua makhluk berbahagia.



Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."