Sejarah Penyakit Bipolar Disorder (Manic Depression)Gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan penyakit kejiwaan tertua pada manusia. Dalam gangguan ini, suasana hati penderitanya berubah antara keadaan yang sangat bersemangat yang disebut mania dan keadaan lain yang disebut depresi.

penyakit kejiwaan, bipolar disorder, gangguan bipolar, depresi

Gangguan bipolar dikenal dengan berbagai nama seperti gangguan manic depressive, manik depresi dan gangguan afektif bipolar. Kelainan ini ditandai oleh dua kondisi ekstrim, suasana hati yang diatas normal dan berlebihan yang dikenal sebagai mania dan depresi ekstrim. Kondisi ini pasien dipisahkan oleh periode suasana hati¬†intermiten ‘normal’.

Banyak ilmuwan, psikiater, dan dokter dari berbagai negara telah meneliti tentang penyakit mental bersejarah ini. Butuh waktu bagi orang untuk memahami perbedaan antara gangguan bipolar dan gangguan mental lainnya. Alasan di balik ini, adalah kesamaan dalam gejala yang ditunjukkan oleh pasien dengan gangguan bipolar dan penyakit lainnya. Barulah pada tahun 1980, bahwa gangguan bipolar pada anak-anak didirikan sebagai penyakit terpisah dari pada orang dewasa. Karena gangguan ini juga dikenal sebagai gangguan manic depressive, perlu untuk mengetahui sejarah kata-kata ‘depresi’ dan ‘mania’. Melankoli, kata Yunani untuk depresi, terbentuk dari dua kata ‘melas’ dan ‘chole’, yang berarti ‘hitam’ dan ’empedu’ masing-masing arti. Cairan empedu hitam dapat disebut demikian, dianggap bertanggung jawab sebagai penyebab depresi. Cairan empedu kuning dianggap penyebab di balik mania. Meskipun asal kata ‘mania’ tidak dimengerti dengan jelas, menurut Caelius Aurelianus, seorang dokter Romawi, terbentuk dari dua kata yaitu ‘ania’ yang berarti penderitaan mental dan ‘manos’, sebuah kata yang menggambarkan keadaan pikiran santai.

Sejarah Bipolar Disorder

Sebelumnya, pada abad ke-2, ‘mania’ dan ‘melankoli’ dianggap sebagai gejala dua penyakit yang berbeda. Soranus, seorang dokter dari Yunani mendukung pandangan ini. Hanya setelah penelitian yang dilakukan oleh penulis Cina, bahwa gangguan bipolar dianggap sebagai penyakit yang terpisah. Gao Lian, seorang penulis ensiklopedia telah menulis tentang penyakit ini dalam bukunya, (Eight Treatises on the Nurturing of Life) Delapan Risalah atas Pemeliharaan Kehidupan.

Sebagian besar informasi yang tersedia mengenai manik depresi sampai hari ini, berasal dari karya Aretaeus, Dokter Yunani, yang hidup antara tahun 30 dan 150 Masehi, di kota Alexandria. Dia telah banyak memberikan kontribusi kepada studi penelitian terkait manik depresi sebagai konsep terpadu. Menurut Aretaeus, penyebab utama di balik gangguan bipolar adalah ’empedu hitam’.

Ibnu Sina (Avicenna) dari Persia membedakan gangguan bipolar dari gangguan mental lainnya seperti skizofrenia dan mania.

Konsep modern yang berkaitan dengan manik depresi dikembangkan pada 1850-an. Pada 31 Januari 1854, Jules Baillarger mempresentasikan informasi tentang gangguan bipolar sebelum ‘Akademi Kedokteran Kekaisaran Prancis’. Baillarger menggunakan istilah ‘bentuk kegilaan ganda’ untuk menggambarkan gangguan bipolar. Pada tahun yang sama, pada 14 Februari, Jean-Pierre menggambarkan karakteristik gangguan ini. Felret memperkenalkan istilah baru ‘lingkaran kegilaan’, untuk gangguan bipolar. Andreas Marneros dari Martin Luther University Halle-Wittenberg, Jerman mempelajari konsep-konsep ini. Pada tahun 2001, ia menyatakan konsep sebagai “kelahiran kembali dari bipolaritas di era modern”.

Emil Kraepelin (1856-1926), seorang psikiater dari Jerman mempelajari perilaku orang dengan gangguan bipolar. Dalam studinya, Kraepelin menemukan bahwa pasien gangguan bipolar menunjukkan gejala seperti mania dan depresi, namun tahapan gejala-gejala ini diikuti oleh fase bebas dari stres atau normal. Dia dipuji dengan dikonsep gangguan ini di zaman modern.





Penelitian di bidang pengembangan obat untuk gangguan bipolar dimulai setelah Perang Dunia II. Seorang psikiater dari Melbourne, Australia, Dr John Cade menemukan penggunaan Karbonat Lithium dalam pengobatan gangguan ini.

Banyak tokoh terkenal seperti Goethe, Leo Tolstoy, Theodore Roosevelt, Abraham Lincoln dan Winston Churchill menderita gangguan bipolar. Fakta di atas menyatakan bahwa meskipun menderita gangguan kejiwaan ini, justru orang-orang tersebut  telah berhasil meraih kesuksesan besar dalam kehidupan. Karena, orang-orang yang kreatif cenderung memiliki penyakit gangguan kejiwaan.




About Bram Ardianto

"Ya Allah, jadikanlah semua karyaku sebagai cahaya pembimbing menuju jalanMu, senantiasa menyampaikan pesan kebajikan, dan jadikanlah hidup ini selalu bersyukur atas segala nikmatMu...."