Bagikan :

krisis eksistensi, krisis eksistensial, gejala krisis eksistensial, tanda krisis eksistensial
Apa Itu Krisis Eksistensial Dan Bagaimana Cara Mengatasinya?Krisis eksistensial adalah fase refleksi yang mendalam, umumnya terjadi saat jawaban atas pertanyaan seputar makna dan tujuan hidup tak lagi memberikan kepuasan, arah, atau bahkan kedamaian jiwa. Terlalu banyak merenungkan kehidupan, tak tahu target yang dicari, bisa membuat benak Anda kacau balau, akhirnya berakibat depresi.

Krisis eksistensial dapat dialami siapa saja tak memandang usia. Jika kita mampu memahami krisis ini dengan baik, maka dapat memberikan keuntungan transformasi bagi individu, seperti mencapai pengetahuan diri, pematangan moral dan emosional, pertumbuhan pribadi, dan bahkan kebangkitan spiritual.

Tetapi jika seseorang tidak mampu mengatasi krisis ini, cenderung mengalami tekanan hidup, tenggelam dalam sejumlah gangguan, fobia, depresi dan mengisolasi diri. Menurut psikolog, ada lima gejala utama yang menjadi ciri krisis eksistensial. Cari tahu apakah Anda mungkin sedang mengalaminya?

5 Tanda Krisis Eksistensial

1. Kecemasan dan kelelahan mental
Ini dianggap sebagai salah satu tanda paling umum dari krisis eksistensial, yaitu kelelahan psikologis. Bahkan orang yang kita kenal introspektif dan kalem seolah hidupnya tanpa masalah pun tidak kita sangka bisa mengalaminya. Biasanya muncul rasa pesimistis, datang masalah yang menguras emosi, sehingga membuat hidup luar biasa cemas dan letih.



Seperti otot-otot tubuh lainnya, pikiran manusia juga membutuhkan saat-saat istirahat. Jika tidak, maka kadar stres akan meningkat dan akan lebih nampak gejalanya dalam keseharian kita.

2. Merasa tidak ingin bersama siapapun
Karena pikiran sudah berada dalam kondisi kekacauan yang konstan, orang dengan krisis eksistensial berusaha mengasingkan diri untuk mencoba menemukan keseimbangan dalam pikirannya. Kita lebih senang melamun daripada melakukan aktifitas lain. Selain itu, kelelahan mental menghilangkan segala jenis keinginan untuk melakukan interaksi sosial, seperti bergaul dengan teman atau bahkan bertemu anggota keluarga.

Baca Juga -  6 Tips Bermanfaat untuk Introvert Agar Sukses di Tempat Kerja

Dalam fase ini, orang biasanya menghabiskan waktu hanya di tempat tidur, mendengarkan musik, bermain game atau menonton film.

3. Pesimis dan putus asa
Mencoba mengalahkan gagasan dan pemikiran juga ada di benak mereka yang mengalami krisis jenis ini. Biasanya, krisis eksistensial berkembang dari peristiwa yang berdampak traumatis, seperti kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, keterpurukan ekonomi, dsb.

Dalam situasi ini, orang tersebut cenderung terus merenungi kehidupannya, mempertanyakan nilai-nilai dan keputusan yang diikuti sampai saat itu. Karena alasan ini, perasaan tak berdaya mulai tumbuh, kesedihan tidak kunjung hilang, merasa seolah-olah semua masalah tidak ada yang bisa diselesaikan.

4. Merasa kehilangan arah
Mungkin ini adalah salah satu tanda paling mencolok dari krisis eksistensial. Ketika seluruh beban pikiran kita difokuskan ke dalam lamunan, maka muncullah perasaan ketidakpastian, kebingungan, dan rasa tidak nyaman cukup kuat.

Kita tidak tahu bagaimana harus bertindak, dan apa yang kita inginkan untuk masa depan. Ketidakberdayaan ini sangat menyakitkan, dan jika tidak ditangani secara memadai, emosi ini pada akhirnya akan mengarah pada depresi. Rasa putus asa dan kehilangan semangat akan cenderung tumbuh.

5. Perubahan nafsu makan
Kecemasan yang konstan juga berimbas pada kondisi fisik seperti perubahan suasana hati, pola tidur, dan perubahan selera makan seseorang. Memang ada beberapa orang justru banyak makan ketika mereka merasa stres, tetapi sebagian juga ada yang menghadapi krisis eksistensial juga mengalami kehilangan nafsu makan, sehingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah, berakibat mudah terserang penyakit.

Cara Menghadapi Krisis Eksistensial
Krisis eksistensial dapat bermanfaat bagi pendewasaan dan pengetahuan diri kita. Tetapi, fase ini harus dijalani dengan hati-hati. Jika tidak, konsekuensinya justru akan menjadi bencana bagi masa depan orang tersebut.

Karena krisis eksistensial terdiri dari konflik refleksif atas sifat individu, latihan yang sangat baik untuk membantu mengatasi momen ini adalah mempertanyakan. Kenapa aku merasa seperti ini? Kenapa saya tidak berpikir saya bisa? Mengapa saya tidak merasa termotivasi? Semua pertanyaan ini tulis ke dalam jurnal pribadi agar mudah mencari akar masalahnya.

Baca Juga -  Membaca Sifat Kepribadian Menurut Tanggal Lahir

Di hampir setiap aspek kehidupan, langkah pertama dalam menemukan solusi suatu masalah adalah mengidentifikasinya dengan benar. Itulah sebabnya penting untuk membuat refleksi diri untuk mencoba memahami sumber yang memicu perasaan Anda.

  • Cobalah untuk mengalihkan pikiran Anda dari ide-ide pesimistis.
  • Fokuskan pikiran Anda pada kegiatan yang produktif dan santai yang akan membebaskan Anda dari kesedihan akibat krisis ini.
  • Kendalikan hidup Anda dan pahami bahwa tidak apa-apa jika tidak menemukan semua jawaban yang kita cari. Pada akhirnya, semua jawaban akan muncul dengan sendirinya saat kita tidak memikirkannya.
  • Gunakan beberapa afirmasi/doa-doa sesuai keyakinan Anda untuk melatih pikiran Anda kembali ke pola yang lebih optimis
  • Latih pernapasan untuk memulihkan frekuensi getaran tubuh halus Anda, yaitu tubuh emosional Anda.

Namun berhati-hatilah, jika Anda merasa bahwa sekeras apa pun Anda berusaha memahami fase ini, gejalanya tidak hilang begitu saja. Dalam hidup masalah memang selalu ada, satu selesai masalah yang lain datang lagi. Anda tidak bisa mengatasinya sendiri dengan cara apapun, bagaimanapun juga Anda perlu mencari bantuan seseorang untuk berbagi agar bisa melewati krisis eksistensial ini.





Loading...
Bagikan :