Bagikan :

sel tubuh, sel tubuh bisa mendengar

Sel Tubuh Anda Sebenarnya Bisa MendengarkanSains telah membuktikan bahwa setiap sel yang membentuk tubuh kita adalah kelompok molekul yang memiliki kecerdasan, mereka hidup. Sains juga telah membuktikan bahwa sel-sel individual kita juga sangat dipengaruhi banyak faktor, melalui perhatian dan pikiran kita secara positif maupun negatif. Sebagai titik acuannya, karya ilmiah dari Cleve Backster dalam bukunya berjudul “Primary Perception : Bio-communication with Plants, Living Foods and Humans” (Persepsi Utama : Bio-komunikasi dengan Tanaman, Makanan-yang-Hidup dan Manusia), bisa memberi pencerahan untuk kita.

Cleve Backster, merangkum pengalaman, penelitian, dan penemuan selama lebih dari lima puluh empat tahun. Ia telah terkenal karena keahliannya mempergunakan poligraf, sebuah peralatan elektrik yang mencatat aktivitas tubuh yang bekerja alami seperti denyut nadi. keringat, atau peluh. Alat ini juga sering digunakan sebagai ‘alat pendeteksi kebohongan’.

Backster mengembangkan teknik poligraf yang konvensional, yang menjadi awal pengembangan Sekolah Pendeteksi Kebohongan Backster (Backster School of Lie Detection) dan Teknik Perbandingan Kawasan Backster (Backster Zone Comparison technique) yang meliputi pengamatan akan pergeseran halus dalam perangkat kesadaran atau mental/psikis dari orang yang diuji dengan menggunakan poligraf. Ia juga yang mula-mula mengembangkan sistem pengujian kartu poligraf secara numerik, yang kemudian menjadi standar dalam ilmu poligraf. Selama awal karirnya, Backster secara aktif terlibat dalam sugesti hipnotis, bahkan sugesti pascahipnotis, dimana suatu ide diberikan kepada orang yang dihipnotis saat berada dalam keadaan terhipnotis ternyata dapat digunakan saat orang itu tidak berada dalam keadaan terhipnotis. Kenyataannya, Backster sangat ahli dalam hal hipnotis sehingga keahliannya itu dimanfaatkan oleh Dinas Rahasia Angkatan Bersenjata Amerika Serikat ‘US Army Counter Intelligence Corps’ dan ‘Central Intelligence Agency (CIA)’.

Akan tetapi, pada tahun 1966, Backster mengalihkan fokus pekerjaannya saat dia secara tidak sengaja menemukan ide akan daya persepsi tanaman, yaitu kemampuan tanaman untuk menanggapi rangsangan dan kehadiran dari makhluk hidup lainnya. Untuk menguji ide ini, pertama-tama dia memutuskan untuk mengukur laju kenaikan air pada tanaman dari akar ke daun dengan meletakkan daun tanaman Dracaena antara dua buah sensor elektroda dan melilit daun yang diapit sensor tersebut dengan karet sambil menghubungkan sensor tersebut ke peralatan poligraf. Hasil yang diperoleh sangat mirip dengan reaksi yang terjadi pada manusia yang takut terdeteksi kebohongannya. Penemuan ini sungguh menakjubkan sehingga dia mulai menguji lebih banyak tanaman lagi dengan pengawasan yang ketat untuk mengetahui apakah dia bisa memperoleh lebih banyak tambahan kemiripan reaksi seperti yang terjadi pada manusia.

Dalam percobaan Backster berikutnya, ia memegang korek api dan bertingkah laku seolah-olah sedang mengancam keberadaan tanaman tersebut. Hasil dari pembacaan poligraf yang dia peroleh mirip dengan hasil pembacaan yang didapatkan dari manusia ketika mereka sedang letih atau bosan. Berikutnya, dia memutuskan untuk mempelajari reaksi sebuah tanaman jika dia membentuk pikiran dengan ‘niat’ yang secara jelas ingin membakar salah satu daun tanaman tersebut. Tidak ada kata yang diucapkan, tidak ada korek api yang dinyalakan dan bahkan tanaman tersebut tidak tersentuh sama sekali, tetapi seakan-akan tanaman tersebut ‘dapat membaca pikirannya’, mesin poligraf merekam reaksi dramatis dengan menanjak/menembus sampai ke puncak grafik! Bagi tanaman tersebut, maksud dari sang peneliti sangat jelas dan nyata. Ini menunjukkan bahwa organisme tersebut (dalam hal ini adalah tanaman) dapat membedakan ide ‘bagaimana jika’ dari sang peneliti (tanpa reaksi) dengan ide yang memiliki maksud yang jelas (dalam hal ini adalah reaksi yang drastis untuk mengancam keberadaan tanaman itu). Lebih jauh lagi, tanaman lainnya yang dilekatkan pada sensor juga bereaksi.



Untuk artikel pertama yang dipublikasikannya, Backster mengatur percobaan untuk melihat jika tanaman-tanaman yang secara bersamaan dimonitor dalam tiga tempat yang berbeda (ruang-ruang yang berdampingan), akan bereaksi terhadap kematian makhluk hidup lainnya (udang air asin). Salah satu daun dari setiap tanaman yang dimonitor tersebut dicepit oleh elektroda, dan juga terdapat sebuah poligraf pengontrol yang mengukur pembacaan dari ketiga elektroda yang dilekatkan pada tanaman-tanaman tersebut. Peralatan poligraf diletakkan pada ruang yang terpisah, dan pengatur waktu untuk mengakhiri hidup udang tersebut juga diletakkan pada ruang ke tiga. Aspek pengontrolan penelitian tersebut diatur agar tanaman-tanaman tersebut tidak melakukan penyesuaian diri dengan sang peneliti, karenanya ia meninggalkan gedung penelitian. Backster kemudian menemukan bahwa tanaman-tanaman yang diberikan lekatan elektroda, secara bersamaan bereaksi dengan kuat saat terbunuhnya udang air asin tersebut.

Lebih jauh lagi, suatu hari Backster memperhatikan catatan penemuan atas reaksi dari sebuah telur ayam yang tidak dibuahi yang dihubungkan dengan elektroda dan sebuah alat pengukur reaksi tubuh, dimana reaksi dari telur tersebut sangat mirip dengan denyut nadi manusia yang terlukis di atas kartu grafik poligraf, kecuali bahwa denyut tersebut jauh lebih cepat. Akan tetapi, kecepatan yang diamati tersebut, kurang lebih 157 denyutan per menit, denyut jantung yang diberikan oleh embrio anak ayam yang berada dalam tiga hari pengeraman pada penelitian terdahulu, dan penelitian ini memberikan bukti yang kuat akan bio-komunikasi telur dengan lingkungan luar.

Dalam percobaan yang lain, Backster menempatkan elektroda pada sebuah telur untuk keperluan pencatatan elektrokardiogram dan mengatur pemasukan sepuluh telur lainnya ke dalam air mendidih. Ketika kembali ke laboratoriumnya, peneliti tersebut sangat terkejut saat menemukan bahwa hanya satu reaksi grafik yang ditunjukkan oleh telur yang dilekatkan dengan elektroda saat telur pertama dari kesepuluh telur tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih. Nampaknya bahwa, baik telur pertama yang memasuki air mendidih atau mungkin juga telur yang diberikan elektoda tersebut ‘memberitahu’ ke sembilan telur lainnya akan adanya bahaya, menyebabkan mereka melakukan pertahanan diri yang mirip dengan kondisi pingsan. Sang peneliti melakukan penelitian tambahan dimana sekali lagi ia menjumpai reaksi ‘pingsan’ tersebut sehingga ia menunda penelitian itu. Akan tetapi, dia mengakui bahwa tampaknya telur-telur tersebut, entah dengan cara bagaimana, dapat berkomunikasi satu sama lainnya.

Cleve Backster melakukan pekerjaan laboratorium Bio-Komunikasi tersebut selama empat puluh tahun. Dia terus melakukan percobaan-percobaan seperti itu dan banyak dari percobaan-percobaan tersebut dibahas dalam bukunya. Penelitian ini memberikan pengetahuan bahwa persepsi/pencerapan (proses yang menggunakan alat-alat indra untuk mendapatkan informasi tentang lingkungan atau situasi yang sedang terjadi), dan penyesuaian diri (menjadi terbuka atau tanggap pada sesuatu yang lain) merupakan kualitas yang juga dimiliki oleh bentuk-bentuk kehidupan non-manusia. Hasil penelitian Backster menjangkau masyarakat umum di Amerika Serikat melalui wawancaranya dengan para pembawa acara TV yang bergengsi seperti Johnny Carson, Art Linkletter, Merv Griffin, dan David Frost. Dan, apa yang dia namakan ‘Efek Backster’ itu, akhirnya menarik perhatian seluruh dunia. Metode awal Backster itu sekarang disadur oleh ilmuwan-ilmuwan lainnya yang sedang mempelajari/meneliti tentang persepsi utama dalam sel-sel tanaman, bakteri, dan sel-sel manusia, dimana mereka telah mengamati bahwa sel-sel manusia dan DNA bereaksi pada pikiran dan ucapan.

Perlu diingat, setiap sel tubuh Anda juga memiliki keinginan untuk menjadi sehat seperti yang Anda inginkan dengan cara menghargai mereka. Jika Anda sudah memahami artikel ini, itu berarti setiap sel adalah ‘kesatuan cerdas’ dalam dirinya sendiri dan memiliki kemampuan untuk merespon. Sebagai kesimpulannya berarti bahwa manusia, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya itu saling terhubung. Sehingga kita perlu menjalani hidup saling mengasihi pada makhluk hidup lainnya, dan dengan demikian pasti akan menciptakan dunia yang lebih indah.

Referensi :

– Primary Perception : Bio-communication with Plants, Living Foods and Human (Persepsi Utama: Bio-Komunikasi dengan tanaman, Makanan-yang-Hidup dan Manusia)



Loading...
Bagikan :

About Bram Ardianto

"Ya Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, jadikanlah semua pembacaku selalu sehat, berbahagia, serta berilah rezeki yang melimpah. Aamiin...."